RI News. Rayak, Lebanon – Angin perang yang semakin kencang di Timur Tengah, serangan udara Israel terhadap wilayah timur Lebanon telah menewaskan setidaknya delapan anggota kelompok militan Hizbullah, termasuk komandan lokal, pada Jumat malam, 21 Februari 2026. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan total korban tewas mencapai 10 orang, dengan 24 lainnya terluka, termasuk tiga anak-anak, meskipun tidak ada pembedaan antara militan dan warga sipil. Serangan ini menargetkan pusat komando di wilayah Baalbek di Lembah Bekaa, yang diklaim Israel sebagai upaya untuk menghentikan persiapan serangan roket Hizbullah terhadap wilayahnya. Kejadian ini bukan hanya pelanggaran terhadap gencatan senjata yang rapuh, tetapi juga memperlihatkan dinamika kekuasaan yang rumit di kawasan, di mana pengaruh Iran sebagai pendukung utama Hizbullah semakin menjadi sorotan.
Secara historis, konflik antara Israel dan Hizbullah telah berakar sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang di Gaza dan memprovokasi Hizbullah untuk meluncurkan roket dari Lebanon sebagai bentuk solidaritas. Konflik rendah intensitas itu kemudian meledak menjadi perang skala penuh pada September 2024, sebelum diredam oleh gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada November tahun yang sama. Namun, sejak itu, Israel terus melakukan serangan hampir setiap hari, dengan dalih mencegah Hizbullah membangun kembali kekuatannya, sementara Hizbullah hanya mengklaim satu serangan balasan. Data menunjukkan bahwa Israel telah melancarkan lebih dari 10.000 serangan udara dan darat sejak gencatan senjata, yang menurut PBB merupakan pelanggaran berulang terhadap kesepakatan. Serangan terbaru ini tergolong salah satu yang paling mematikan, dengan korban termasuk komandan seperti Ali al-Moussawi, Mohammed al-Moussawi, dan Hussein Yaghi—putra dari salah satu pendiri Hizbullah yang dekat dengan mendiang pemimpin Hassan Nasrallah.

Reaksi dari berbagai pihak mencerminkan polarisasi yang mendalam. Dari sisi Israel, militer menyatakan bahwa serangan ini ditujukan untuk mendegradasi kemampuan roket Hizbullah, terutama di tengah persiapan kelompok itu untuk kemungkinan perang jika Amerika Serikat menyerang Iran. Sumber keamanan Israel menyebut bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah mengambil alih kendali Hizbullah, mempersiapkannya untuk konflik multi-front bersama milisi Syiah di Irak dan pemberontak Houthi di Yaman. Di sisi lain, Hizbullah menyatakan bahwa mereka tidak punya pilihan selain melanjutkan perlawanan, menyebut serangan Israel sebagai “eskalasi berbahaya” yang mengabaikan Resolusi PBB 1701. Presiden Lebanon mengecam serangan ini sebagai pengabaian terhadap upaya diplomatik internasional, mendesak negara-negara pendukung stabilitas regional untuk menghentikan agresi. Sementara itu, opini publik di kawasan menunjukkan kekhawatiran akan perang yang lebih luas, dengan beberapa pihak menyoroti bahwa tindakan Israel justru memprovokasi pergerakan roket Hizbullah sebagai balasan.

Dari perspektif akademis, eskalasi ini tidak bisa dipisahkan dari dinamika geopolitik yang lebih besar. Upaya pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah di selatan Sungai Litani, sesuai kesepakatan gencatan senjata, telah menunjukkan kemajuan moderat, dengan penurunan serangan Israel di wilayah selatan sebagai bukti. Namun, Hizbullah menolak pelucutan senjata di utara Litani, membingkainya sebagai ancaman eksistensial terhadap komunitas Syiah, yang pada gilirannya mempersulit Tentara Lebanon untuk bertindak tanpa memicu konflik internal. Analis menilai bahwa serangan Israel di wilayah tengah dan utara Lebanon, di mana Hizbullah memindahkan persenjataannya, justru memperkuat narasi Hizbullah sebagai pelindung Lebanon dari agresi luar. Lebih lanjut, implikasi ekologis dari konflik ini sering terabaikan; serangan berulang telah menghancurkan hutan dan lahan pertanian di perbatasan Lebanon, meninggalkan bekas luka lingkungan yang mempengaruhi kehidupan ribuan warga sipil.
Baca juga : Brace Muda O’Reilly: Manchester City Pangkas Jarak dengan Arsenal di Liga Inggris
Ketegangan ini semakin memanas dengan ancaman Amerika Serikat untuk menyerang Iran jika negosiasi program nuklir gagal, yang bisa memicu perang regional melibatkan Hizbullah sebagai proksi Iran. Beberapa pengamat memperingatkan bahwa serangan seperti ini bisa memiliki konsekuensi jangka panjang, berpotensi membuka front perang baru di tengah evakuasi pasukan AS dari basis di Qatar dan Bahrain sebagai langkah pencegahan. Dalam konteks ini, stabilitas Timur Tengah bergantung pada kemampuan aktor internasional untuk menahan eskalasi, sambil mempertimbangkan aspirasi rakyat Lebanon yang semakin muak dengan konflik berkepanjangan yang merusak ekonomi dan keamanan mereka. Apakah ini awal dari babak baru perang, atau peluang untuk diplomasi yang lebih kuat? Jawabannya mungkin terletak pada seberapa cepat dukungan internasional mengalir ke Lebanon untuk melemahkan pengaruh milisi tanpa memicu kekacauan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

