RI News. Frankfurt, Germany — Pasar minyak global berada di ambang gejolak besar menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas di Iran. Pasar yang tutup selama akhir pekan ini diprediksi akan membuka perdagangan dengan lonjakan harga signifikan pada Senin pagi, didorong oleh ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent sempat ditutup pada level sekitar $72–73 per barel pada akhir Februari 2026, menandai kenaikan tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat ketegangan geopolitik yang memanas. Namun, dalam perdagangan over-the-counter pasca-serangan, harga sudah melonjak hingga mendekati $80 per barel, sementara analis memperingatkan potensi tembus $100 per barel jika konflik berlarut-larut.
Fokus utama kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia setiap harinya. Sejumlah kapal tanker dilaporkan menghentikan perjalanan atau berlabuh di luar selat tersebut setelah peringatan dari pihak Iran yang membatasi lalu lintas kapal. Gangguan ini berpotensi memblokir ekspor dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, serta Qatar untuk gas alam cair, meskipun Iran sendiri juga bergantung pada jalur yang sama untuk mengekspor minyaknya ke China.

Iran, yang mengekspor sekitar 1,5–1,6 juta barel per hari—terutama ke kilang swasta China—menghadapi risiko pemutusan pasokan jika serangan meluas ke infrastruktur seperti terminal pulau Kharg atau jalur pipa. Pembeli China kemungkinan akan beralih ke pasar global, menambah tekanan pada harga. Di sisi lain, para pengamat menilai Teheran memiliki insentif terbatas untuk menutup selat secara permanen karena hal itu akan merugikan ekonomi domestiknya sendiri dan hubungan dengan Beijing.
Skenario paling ringan—serangan terbatas tanpa gangguan infrastruktur besar—diperkirakan mendorong kenaikan harga $10–20 per barel semata karena faktor psikologis dan ketakutan pasar. Namun, jika lalu lintas tanker terganggu berkepanjangan, harga bisa melesat ke level tiga digit, memicu efek domino pada harga bensin dan energi global. Di Amerika Serikat, harga bensin yang sempat mendekati $3 per galon berpotensi melonjak jauh lebih tinggi, menambah beban inflasi dan daya beli masyarakat.
Produsen utama seperti OPEC+ telah menyetujui peningkatan kuota produksi kecil untuk meredam gejolak, sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dikabarkan siap menambah ekspor guna mengimbangi kekurangan. Meski demikian, kemampuan tersebut terbatas jika Selat Hormuz benar-benar terganggu dalam waktu lama.
Konflik ini menandai eskalasi serius di kawasan yang telah lama menjadi titik rawan energi dunia. Pelaku pasar kini menanti respons lanjutan dari semua pihak, termasuk kemungkinan serangan balasan lebih luas dari Iran terhadap aset di negara tetangga. Ketidakpastian ini tidak hanya mengancam stabilitas harga komoditas, tetapi juga prospek pertumbuhan ekonomi global di tengah tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Minggu depan akan menjadi ujian krusial bagi ketahanan rantai pasok energi dunia—dan bagi konsumen di mana pun yang akan merasakan dampaknya melalui dompet sehari-hari.
Pewarta : Anjar Bramantyo

