RI News Portal. London, 11 Februari 2026 – Meski perang di Ukraina memasuki tahun keempat tanpa tanda berakhir, Moskow tidak memiliki kapasitas untuk melancarkan serangan militer terhadap negara-negara NATO dalam dua tahun ke depan. Namun, Kremlin sedang mempercepat reformasi militer besar-besaran yang bertujuan menggandakan atau bahkan melipatgandakan kekuatan pasukannya di sepanjang flank timur aliansi Atlantik Utara—tergantung sepenuhnya pada bagaimana akhir konflik di Ukraina nantinya.
Penilaian ini muncul dari laporan intelijen terbaru yang dirilis oleh dinas intelijen luar negeri Estonia, yang menyoroti kekhawatiran mendalam Moskow terhadap upaya rearmament (persenjataan ulang) yang sedang digalakkan Eropa. Kepala dinas tersebut, Kaupo Rosin, menegaskan bahwa Rusia saat ini kekurangan sumber daya untuk membuka front baru melawan NATO. Sebagian besar aset militernya masih terikat di wilayah pendudukan Ukraina dan di dalam negeri untuk menjaga stabilitas serta mencegah serangan balik dari Kyiv.
“Rusia memahami bahwa Eropa, dalam dua hingga tiga tahun ke depan, berpotensi melakukan aksi militer independen terhadapnya jika persenjataan ulang berjalan lancar,” ujar Rosin dalam pengarahan daring baru-baru ini. Strategi Kremlin kini bergeser ke upaya menunda dan menghambat proses tersebut, sambil terus memproduksi amunisi dalam skala masif—cukup untuk mempertahankan perang di Ukraina sekaligus menimbun stok bagi konflik masa depan.

Dinamika ini sangat dipengaruhi oleh jalannya perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat. Presiden Donald Trump telah menetapkan tenggat Juni 2026 bagi Rusia dan Ukraina untuk mencapai penyelesaian, dengan ancaman tekanan yang lebih keras jika gagal. Namun, dari perspektif intelijen Eropa, Presiden Vladimir Putin belum menunjukkan niat sungguh-sungguh untuk mengakhiri invasi. Ia diyakini masih meyakini bahwa kemenangan militer di Ukraina tetap mungkin, meski informasi yang diterimanya dari bawahannya cenderung terlalu optimis dan tidak mencerminkan realitas di lapangan.
Pejabat Rusia, menurut sumber intelijen, sedang “mengulur waktu” dalam dialog dengan Washington. Tidak ada diskusi substantif tentang kerja sama jangka panjang; Moskow justru melihat Amerika sebagai “musuh utama” dan berupaya memanfaatkan perundingan untuk memperbaiki posisi tawarnya, termasuk pelonggaran sanksi dan pengakuan atas wilayah pendudukan. Sementara pertukaran tawanan baru-baru ini di Abu Dhabi disebut sebagai kemajuan oleh Gedung Putih, isu krusial seperti status wilayah Donbas, demiliterisasi, dan jaminan keamanan tetap macet.
Baca juga : Tragedi Tenggelam di Bengawan Solo: Pasien Gangguan Jiwa Ditemukan Meninggal Setelah Hilang Tiga Hari
Di lapangan, serangan Rusia terus berlanjut. Pekan ini, bom meluncur menghantam Sloviansk di wilayah Donetsk, menewaskan seorang anak perempuan berusia 11 tahun beserta ibunya dan melukai belasan warga sipil lainnya. Serangan drone malam hari di berbagai wilayah juga menimbulkan korban, termasuk anak-anak kecil. Situasi ini memperlihatkan bahwa meski Rusia mengalami kerugian besar, kemampuan produksi senjatanya tetap tangguh.
Para analis keamanan Eropa menilai bahwa posisi Putin hanya akan bergeser jika situasi internal Rusia atau garis depan mencapai titik kritis yang mengancam kekuasaannya. Untuk saat ini, keyakinan bahwa ia bisa “mengakali” semua pihak—termasuk dalam diplomasi dengan AS—masih mendominasi pemikiran Kremlin. Hal ini menciptakan paradoks: perundingan damai yang intens justru menjadi alat bagi Rusia untuk memperkuat posisi jangka panjang, sementara Eropa dan NATO dipaksa mempercepat investasi pertahanan agar keseimbangan kekuatan tetap menguntungkan.
Dalam konteks ini, laporan intelijen Estonia menjadi pengingat penting: ancaman Rusia terhadap keamanan Eropa bukanlah invasi mendadak tahun ini, melainkan pembangunan kekuatan sistematis yang bisa mengubah peta kekuatan regional dalam beberapa tahun mendatang. Eropa harus bertindak cepat—bukan karena Rusia akan menyerang besok, tapi agar Moskow tidak pernah berani melakukannya di masa depan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

