RI News Portal. Jakarta, 15 Januari 2026 – Presiden Prabowo Subianto menggelar taklimat khusus di halaman tengah Istana Kepresidenan Republik Indonesia, Jakarta, pada Kamis pagi, di hadapan sekitar 1.200 rektor, dekan, dan guru besar bidang sosial-humaniora dari perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Presiden memaparkan kondisi aktual energi, hilirisasi sumber daya alam, situasi ekonomi nasional, serta strategi ketahanan pangan dan kedaulatan negara di tengah dinamika geopolitik global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, yang mendampingi Presiden dalam pertemuan itu, menyatakan bahwa taklimat tersebut menjadi wadah penting bagi Presiden untuk berbagi pandangan mendalam mengenai penyelenggaraan negara. “Bapak Presiden menjelaskan kondisi negara kita saat ini, termasuk ekonomi, kedaulatan pangan, hilirisasi, dan energi. Ini juga mencakup cara Indonesia bertahan di era geopolitik yang kompleks,” ujar Bahlil usai acara.
Menurut Bahlil, pertemuan ini bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan upaya membangun pemahaman bersama antara pemimpin negara dan kalangan akademisi mengenai tantangan strategis yang dihadapi bangsa. Ia menekankan bahwa diskusi semacam ini memperkaya perspektif akademik dalam merespons isu-isu nasional yang bersifat multidimensi.

Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Presiden juga menyentuh program unggulan pemerintah, khususnya swasembada pangan dan hilirisasi industri. “Taklimat ini berfokus pada situasi geopolitik terkini, kondisi ekonomi, serta langkah strategis ke depan,” kata Airlangga. Ia menegaskan bahwa acara berlangsung dalam format taklimat satu arah tanpa sesi dialog terbuka.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai pertemuan ini sebagai wujud perhatian serius Presiden terhadap dunia pendidikan tinggi. “Ini bagian dari agenda Kepala Negara dan Kepala Pemerintah untuk berbagi pandangan, memberikan pembaruan mengenai kondisi dalam dan luar negeri, serta menyampaikan rencana besar yang harus kita wujudkan bersama,” ujar Prasetyo.
Terkait isu yang belakangan menjadi perhatian publik, yaitu kemungkinan perguruan tinggi mengelola wilayah izin usaha pertambangan, Bahlil menyatakan bahwa topik tersebut tidak dibahas secara spesifik dalam taklimat. Namun, ia mengingatkan bahwa kerangka perundang-undangan yang berlaku saat ini memang membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk memperoleh manfaat dari pengelolaan sumber daya tambang.
Pertemuan ini mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang mengintegrasikan masukan intelektual dari komunitas akademik ke dalam pengambilan kebijakan strategis nasional, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah dan institusi pendidikan tinggi dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Pewarta : Albertus Parikesit

