RI News. Teheran/Beirut/Tel Aviv — Pada hari ke-18 Perang Iran 2026, Israel mengumumkan keberhasilan operasi presisi yang menewaskan dua figur kunci dalam struktur keamanan Republik Islam: Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, serta Mayor Jenderal Gholam Reza Soleimani, komandan pasukan Basij Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada Selasa pagi, menandai pukulan paling signifikan terhadap aparatur pengendalian internal rezim sejak kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada hari pertama konflik, 28 Februari lalu.
Menurut sumber militer Israel, kedua target dieliminasi dalam gelombang serangan udara luas yang menyasar puluhan pos Basij di Teheran dan sekitarnya. Larijani, yang dikenal sebagai arsitek diplomasi nuklir era sebelumnya dan penasihat dekat Khamenei, sempat menjadi simbol ketahanan rezim pasca-kepemimpinan tertinggi berpindah ke Mojtaba Khamenei. Sementara Soleimani memimpin Basij—kekuatan paramiliter sukarelawan yang selama ini menjadi tulang punggung penindasan demonstrasi domestik, termasuk gelombang protes Januari yang menantang otoritas teokrasi selama hampir setengah abad.
Iran sejauh ini hanya mengonfirmasi salah satu kematian melalui saluran resmi IRGC, sementara Mizan News Agency—lembaga berita kehakiman—menyebut informasi tersebut sebagai bagian dari “perang psikologis musuh”. Namun, absennya bantahan tegas dari Teheran terhadap klaim Israel menimbulkan spekulasi di kalangan analis bahwa rezim sedang berjuang menjaga kohesi internal di tengah pemadaman internet berkepanjangan, serangan udara tanpa henti, dan pembatasan ketat terhadap jurnalis.

Eskalasi ini berlangsung paralel dengan gelombang balasan Iran yang terus mengguncang kawasan. Rudal balistik dan drone Iran kembali menargetkan Israel utara, sementara Hizbullah—sekutu utama Teheran di Lebanon—meningkatkan tembakan roket sebagai respons atas intensifikasi operasi IDF di Lebanon selatan. Laporan dari Beirut menyebutkan ratusan ribu warga Lebanon terpaksa mengungsi, dengan korban sipil terus bertambah akibat serangan lintas batas.
Di sisi lain, krisis energi global semakin memburuk seiring penutupan parsial Selat Hormuz oleh Iran. Jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia kini hanya dilewati kapal-kapal tertentu, sementara sekitar 20 kapal komersial dilaporkan telah diserang atau dihalangi. Harga minyak melonjak tajam, memicu kekhawatiran resesi di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur. Presiden Donald Trump secara terbuka mengkritik sekutu NATO dan negara-negara Teluk karena menolak bergabung dalam misi pengamanan selat, seraya menegaskan bahwa “Iran tidak boleh diizinkan memiliki senjata nuklir”.
Baca juga : Trump Tunda Kunjungan ke China: Selat Hormuz Jadi “Batu Sandungan” Diplomasi AS di Tengah Perang Iran
Di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, perang ini mulai memecah basis politik Trump. Pengunduran diri Joe Kent—Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional—pada hari yang sama menjadi sinyal kuat adanya ketidaksepakatan internal. Kent menyatakan tidak dapat “dengan hati nurani yang baik” mendukung operasi militer yang menurutnya tidak didasari ancaman langsung dari Iran, sebuah pandangan yang mencerminkan keresahan di kalangan sebagian pendukung “America First” yang khawatir kenaikan harga bahan bakar dan biaya perang akan merusak janji kampanye presiden.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut eliminasi Larijani dan Soleimani sebagai langkah strategis untuk “melemahkan rezim hingga rakyat Iran dapat mengambil alih nasibnya sendiri”. Namun, hingga kini belum muncul tanda-tanda pemberontakan domestik signifikan di Iran; sebaliknya, otoritas justru memperketat pengawasan menjelang Chaharshanbe Souri—festival api tradisional Persia—dengan pesan ancaman melalui SMS agar masyarakat tidak merayakan secara berlebihan, karena dikhawatirkan dimanfaatkan “unsur perusuh”.
Sementara itu, serangan drone terhadap kompleks Kedutaan Besar AS di Baghdad dan fasilitas minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab, menunjukkan bagaimana konflik ini terus meluas ke negara-negara Teluk dan Irak. Pertahanan udara di Qatar dan Arab Saudi juga aktif mencegat ancaman masuk, menandakan kawasan semakin rentan terhadap spillover.

Analis keamanan regional memperingatkan bahwa meski pukulan terhadap Larijani dan Soleimani melemahkan kemampuan rezim dalam menekan disiden domestik, hal itu justru dapat mempercepat radikalisasi faksi garis keras IRGC dan mendorong eskalasi lebih lanjut—termasuk potensi serangan asimetris yang lebih luas terhadap kepentingan AS dan Israel di kawasan. Di saat yang sama, ketidaksepakatan di antara sekutu Barat—termasuk pernyataan Uni Eropa bahwa “ini bukan perang Eropa”—menambah kerumitan upaya diplomasi untuk meredakan konflik.
Perang yang dimulai sebagai operasi pencegahan nuklir kini telah bertransformasi menjadi pertarungan eksistensial bagi rezim Teheran, sekaligus ujian terberat bagi koalisi yang dipimpin Washington dan Tel Aviv. Dengan korban jiwa di Iran saja telah melampaui 1.300 orang menurut Palang Merah setempat, dan dampak ekonomi global yang terus memburuk, pertanyaan utama kini bukan lagi siapa yang menang, melainkan berapa lama lagi kawasan—dan dunia—mampu menahan guncangan ini sebelum mencapai titik kritis yang tak terelakkan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

