RI News Portal. Munich — Di tengah hiruk-pikuk Konferensi Keamanan Munich yang mempertemukan para pemimpin dunia, sekitar 200.000 hingga 250.000 warga Iran di diaspora memenuhi lapangan Theresienwiese pada Sabtu (14/2/2026). Demonstrasi ini menjadi salah satu aksi protes terbesar di Eropa terhadap Republik Islam Iran sepanjang sejarah, menandai puncak dari gelombang solidaritas internasional yang dipicu oleh represi mematikan terhadap protes dalam negeri sejak akhir Desember lalu.
Para peserta, yang mayoritas berasal dari komunitas Iran di Eropa dan sekitarnya, memukul genderang ritmis sambil meneriakkan seruan perubahan rezim. Bendera singa dan matahari—simbol nasional sebelum Revolusi Islam 1979—berkibar di mana-mana, menjadi pengingat kuat akan identitas pra-revolusi yang masih hidup di kalangan oposisi. Aksi ini bukan sekadar demonstrasi spontan; ia dirancang sebagai bagian dari “hari aksi global” yang dicanangkan Putra Mahkota Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Mohammad Reza Pahlavi yang telah diasingkan sejak 1979.
Dalam pidatonya di sela-sela konferensi keamanan tersebut, Pahlavi menyerukan agar komunitas internasional—khususnya Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump—meningkatkan dukungan konkret bagi rakyat Iran. Ia menegaskan bahwa kelangsungan rezim saat ini mengirimkan pesan berbahaya: kekerasan massal dapat mempertahankan kekuasaan. “Kami berada di saat bahaya mendalam,” ujarnya. “Pertanyaannya kini: akankah dunia berdiri bersama rakyat Iran, atau hanya menyaksikan dari kejauhan?”

Data dari lembaga pemantau hak asasi manusia berbasis di AS mencatat setidaknya 7.005 korban jiwa akibat penindasan terhadap protes anti-pemerintah yang meletus akhir tahun lalu, meskipun estimasi independen lainnya menyebut angka yang jauh lebih tinggi. Protes tersebut dipicu oleh krisis ekonomi, pembatasan kebebasan sipil, dan dugaan korupsi sistemik, yang semakin memperlemah legitimasi rezim di mata sebagian besar masyarakat.
Pahlavi juga menekankan perlunya transisi politik yang terstruktur menuju sistem sekuler-demokratis. Ia menyatakan kesiapannya memimpin fase transisi tersebut, dengan jaminan proses pemilu yang transparan dan inklusif di masa depan. Seruannya ini mencerminkan upaya diaspora Iran untuk menyatukan suara oposisi yang terfragmentasi, sekaligus menekan pemerintah-pemerintah Barat agar tidak terburu-buru melakukan negosiasi nuklir yang dianggap hanya memberi ruang bagi rezim untuk bertahan.
Aksi serupa juga digelar di Los Angeles dan Toronto—dua kota dengan populasi Iran terbesar di Amerika Utara—menunjukkan betapa luasnya jaringan solidaritas yang terbentuk. Para analis melihat momentum ini sebagai potensi titik balik: jika tekanan internasional meningkat melalui sanksi yang lebih ketat atau dukungan diplomatik yang lebih tegas, rezim Teheran bisa menghadapi krisis eksistensial terbesar sejak 1979.
Baca juga : Penindasan Pasca-Kerusuhan: Jejak Darah dan Penangkapan Massal Mengguncang Iran
Namun, para pengamat juga memperingatkan risiko eskalasi. Demonstrasi sebesar ini, yang berlangsung tepat di samping forum keamanan global, dapat memicu respons represif lebih lanjut di dalam negeri Iran, termasuk pemadaman internet massal atau penangkapan massal. Di sisi lain, ketidakpedulian komunitas internasional berpotensi memperkuat narasi rezim bahwa oposisi hanya bergantung pada “kekuatan asing”.
Di Munich, suara ratusan ribu orang itu bukan sekadar teriakan di jalanan—melainkan pengingat bahwa perjuangan untuk perubahan di Iran telah melintasi batas negara, dan kini menuntut jawaban dari panggung dunia.
Pewarta : Setiawan Wibisono

