RI News. Semarang – Setelah absen di babak sebelumnya, Neve Campbell akhirnya kembali sebagai Sidney Prescott di Scream 7, film yang tayang sejak akhir Februari 2026. Disutradarai langsung oleh Kevin Williamson—otak di balik film pertama yang revolusioner—film ini seolah berusaha membawa seri slasher ikonik ini pulang ke akarnya: ketakutan pribadi, trauma keluarga, dan pembunuhan berdarah yang tak terduga.
Cerita kali ini berpusat pada Sidney yang kini menjalani kehidupan “normal” di kota kecil Pine Grove. Ia menjadi istri kepala polisi (diperankan Joel McHale), ibu dari seorang remaja pemberontak berusia 17 tahun bernama Tatum (Isabel May), dan pemilik kafe yang tenang. Masa lalu yang penuh darah dan topeng Ghostface sudah ia kubur dalam-dalam—sampai pembunuh bertopeng itu muncul lagi, menargetkan keluarganya. Ketegangan utama muncul dari hubungan ibu-anak yang retak: Sidney yang overprotektif versus Tatum yang merasa terkekang oleh rahasia ibunya.
Williamson, yang ikut menulis naskah bersama Guy Busick, mencoba mengembalikan nuansa sederhana dari film asli: bukan lagi permainan meta berlebihan, melainkan pertarungan emosional seorang ibu melawan monster yang tak pernah benar-benar pergi. Adegan-adegan pembunuhan tetap brutal dan kreatif—dari tusukan di keran bir hingga palu daging yang menghantam kepala—tapi kali ini terasa lebih personal karena taruhannya adalah darah daging Sidney sendiri.

Courteney Cox kembali sebagai Gale Weathers, jurnalis TV yang sarkastis dan tak pernah absen dari seri ini. Kehadirannya menambah sentuhan humor khas Scream, terutama saat ia menyindir Sidney soal absennya di petualangan New York sebelumnya: “Untung kamu melewatkan itu, brutal banget.” Chemistry lama mereka masih terasa hangat, meski terkadang terjebak dalam dialog yang terlalu berulang.
Sayangnya, Scream 7 tak sepenuhnya berhasil menghidupkan kembali keajaiban franchise. Penyutradaraan Williamson terasa agak kendor, dengan pencahayaan gelap yang kadang menyulitkan penonton melihat aksi, dan beberapa adegan terburu-buru. Upaya menyentuh isu PTSD dan trauma lintas generasi terasa dipaksakan di tengah rentetan pembunuhan yang tak henti-hentinya. Panic room mewah yang seharusnya jadi momen tegang malah ditinggalkan begitu saja dengan alasan klise: “Ini tak akan berhenti kecuali aku yang menghentikannya.”
Bagi penggemar setia, film ini tetap menghibur dengan referensi lama, kejutan killer yang sulit ditebak (meski rumit dan agak berlebihan), serta penampilan Campbell yang paling kuat sepanjang seri—ia tampak lelah tapi tetap garang, mencerminkan perjalanan panjang karakternya. Isabel May sebagai putri Sidney juga menonjol, membawa energi segar meski karakternya agak stereotip remaja bandel.
Baca juga : Selat Hormuz: Ancaman Perang AS-Israel-Iran Picu Gejolak Harga Minyak Global
Secara keseluruhan, Scream 7 seperti reuni keluarga yang penuh nostalgia tapi juga melelahkan: seru di momen-momen tertentu, tapi terasa seperti franchise ini mulai kehabisan napas. Durasi 114 menit terasa panjang karena pacing yang tak merata, dan rating R-nya pantas karena gore dan kekerasan yang masih setia pada DNA seri.
Bagi yang tumbuh bersama Scream sejak 1996, film ini layak ditonton demi melihat Sidney kembali berjuang. Tapi jika Anda mencari horor segar yang benar-benar mengejutkan, mungkin saatnya franchise ini istirahat sejenak—atau setidaknya, membiarkan Sidney benar-benar pensiun. Satu setengah dari empat bintang. Masihkah Ghostface menakutkan? Atau hanya bayang-bayang masa lalu yang tak mau pergi?
Pewarta : Vie

