RI News Portal. London – Dalam langkah yang menandai pergeseran signifikan dari tradisi kerahasiaan monarki Inggris, Raja Charles III secara terbuka menyatakan kesiapan Istana Buckingham untuk mendukung penyelidikan polisi terkait dugaan keterlibatan adiknya, Andrew Mountbatten-Windsor, dalam jaringan Jeffrey Epstein. Pernyataan ini muncul menyusul rilis dokumen baru dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat yang mengungkap korespondensi sensitif antara keduanya.
Polisi Thames Valley, yang wilayah yurisdiksinya mencakup bekas kediaman Mountbatten-Windsor di Windsor, mengonfirmasi sedang melakukan penilaian awal atas tuduhan bahwa mantan pangeran tersebut pernah mengirimkan laporan rahasia perdagangan dari kunjungan resmi ke Asia Tenggara pada 2010. Saat itu, ia menjabat sebagai utusan khusus Inggris bidang perdagangan internasional. Dokumen-dokumen tersebut, yang ditemukan wartawan dalam jutaan halaman arsip Epstein, menunjukkan adanya pertukaran informasi yang berpotensi melanggar kerahasiaan jabatan.

Langkah proaktif dari istana ini kontras tajam dengan pendekatan era Ratu Elizabeth II, yang lebih mengutamakan prinsip “never complain, never explain” demi menjaga aura misterius institusi kerajaan. Para pengamat melihat keputusan Charles sebagai upaya sadar untuk mengambil posisi moral yang lebih tinggi di tengah tuntutan masyarakat modern akan akuntabilitas. “Ini bukan sekadar respons terhadap tekanan, melainkan sinyal bahwa monarki memahami perubahan norma demokrasi,” ujar seorang sejarawan monarki yang mempelajari evolusi institusi ini pasca-Elizabeth.
Sejak Oktober lalu, Mountbatten-Windsor telah kehilangan gelar pangeran dan hak-hak kerajaan lainnya. Ia juga dipaksa meninggalkan Royal Lodge, kediaman bergaya megah berkamar 30 di kawasan Windsor yang selama lebih dari dua dekade menjadi tempat tinggalnya. Kepindahan itu dipercepat secara signifikan akibat gelombang terbaru pengungkapan Epstein; ia meninggalkan rumah tersebut beberapa bulan lebih awal dari jadwal semula dan kini menetap sementara di sebuah properti di Sandringham Estate, Norfolk, yang merupakan milik pribadi raja.
Baca juga : Putin Bermain Waktu: Rusia Tak Siap Serang NATO, tapi Siap Ganda Kekuatan di Perbatasan Timur
Dukungan publik terhadap monarki secara keseluruhan tetap stabil meski skandal ini terus mencoreng citra keluarga kerajaan. Para ahli konstitusi menilai bahwa selama kontroversi terfokus pada satu individu—bukan pada institusi secara keseluruhan—risiko jangka panjang terhadap legitimasi monarki masih dapat dikelola. Namun, potensi penyerahan dokumen internal istana serta kemungkinan wawancara staf atau anggota keluarga kerajaan oleh polisi diprediksi akan memicu gelombang berita baru yang tak diinginkan.
Mountbatten-Windsor secara konsisten membantah segala tuduhan kesalahan dalam hubungannya dengan Epstein, termasuk dugaan keterlibatan dalam aktivitas kriminal sang financier yang telah divonis pada 2008. Kasus ini sendiri telah menjadi simbol kegagalan sistemik dalam menangani kekuasaan dan pengaruh di kalangan elit, dengan korban-korban seperti Virginia Giuffre—yang mengajukan gugatan dan meninggal dunia tahun lalu—menjadi pengingat tragis akan dampak nyata dari jaringan tersebut.

Di tengah tekanan yang terus meningkat, keputusan Raja Charles untuk tidak lagi “mengubur” skandal melalui kesepakatan diam-diam menunjukkan adaptasi monarki terhadap era transparansi dan pengawasan publik yang lebih ketat. Namun, apakah langkah ini cukup untuk “mengusir setan Epstein” dari bayang-bayang institusi berusia berabad-abad itu, atau justru membuka babak baru kerentanan, masih menjadi pertanyaan terbuka yang akan dijawab oleh waktu dan proses hukum mendatang.
Pewarta : Anjar Bramantyo

