RI News. Yogyakarta – Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggerus nilai-nilai luhur bangsa, Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, mengajak seluruh kader perempuan Muslimat NU untuk terus merawat tradisi kegotongroyongan sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.
Khofifah menyampaikan pesan tersebut saat menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU di Yogyakarta, Minggu (29 Maret 2026). Harlah nasional tahun ini mengusung tiga pilar utama: merawat tradisi, menguatkan kemandirian, dan meneduhkan peradaban.
“Harapan kita adalah tradisi kesantunan, tradisi kegotongroyongan, serta tradisi saling membangun persaudaraan itu terus kita rawat,” ujar Khofifah seusai acara.
Menurutnya, merawat tradisi tersebut tak lepas dari akar ajaran Nahdlatul Ulama, yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tradisi ini, lanjut Khofifah, memiliki tiga nilai inti yang sangat relevan dengan tantangan zaman: moderasi, toleransi, dan keadilan.

“Pola-pola seperti ini mengingatkan kita bahwa ada tradisi kebaikan yang harus kita kuatkan dan kita rawat bersama,” tambah mantan Menteri Sosial yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur tersebut.
Pilar kedua yang diusung dalam Harlah kali ini adalah penguatan kemandirian. Khofifah menegaskan bahwa Muslimat NU sebagai organisasi kemasyarakatan perempuan Islam telah menunjukkan ketangguhan luar biasa dalam membangun kemandirian.
“Dengan anggota sekitar 36 juta jiwa, Alhamdulillah kita survive dan terus eksis. Peningkatan layanan pendidikan melalui PAUD dan TK, layanan kesehatan, layanan ekonomi, hingga dakwah menjadi bukti nyata kemandirian tersebut,” jelasnya.
Menurut Khofifah, keberhasilan Muslimat NU dalam menjalankan berbagai program pelayanan masyarakat ini menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai dinamika sosial keagamaan di masa depan.
Baca juga : Ancaman Emas Hitam: Mengapa Pertambangan Ilegal Luput dari Debat Pemilu Peru 2026
Pilar ketiga yang menjadi sorotan adalah “meneduhkan peradaban”. Khofifah mengungkapkan bahwa isu ini telah digaungkan sejak dua tahun terakhir sebagai respons terhadap berbagai bentuk kekerasan dan ketegangan sosial yang masih kerap terjadi.
Diskusi tentang peradaban yang teduh, menurutnya, mencakup berbagai tingkatan mulai dari rumah tangga, komunitas, hingga skala lokal, regional, nasional, dan global.
“Termasuk bagaimana kekerasan terhadap perempuan, terhadap anak, dan terhadap masyarakat secara umum. Kita ingin membangun proses penetrasi bersama agar seluruhnya menjadi teduh, sejuk, dan damai,” tegas Khofifah.
Ia menekankan bahwa upaya meneduhkan peradaban bukan sekadar wacana, melainkan gerakan nyata yang harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, kemudian merembet ke komunitas yang lebih luas.
Dengan semangat tiga pilar tersebut, Harlah ke-80 Muslimat NU diharapkan tidak hanya menjadi momentum peringatan, tetapi juga menjadi titik tolak bagi seluruh kader untuk semakin aktif merawat nilai-nilai luhur NU sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan peradaban Indonesia yang berkeadilan dan penuh kedamaian.
Acara Harlah ini diikuti ribuan kader Muslimat NU dari berbagai daerah, menunjukkan antusiasme tinggi dalam menjaga dan meneruskan warisan tradisi kebaikan yang telah menjadi ciri khas organisasi perempuan Islam terbesar di Indonesia ini.
Pewarta : Lee Anno

