RI News. Yogyakarta — Di tengah eskalasi geopolitik global yang tidak menentu dan ancaman krisis iklim yang kian nyata, jajaran Korem 072/Pamungkas menegaskan kesiapannya untuk mengawal arah kebijakan strategis TNI Angkatan Darat. Komitmen ini mengemuka dalam Upacara Bendera 17-an bulan Mei 2026 yang berlangsung khidmat di Lapangan Apel Makorem 072/Pamungkas, Jalan Reksobayan No. 4, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Senin (18/5/2026).
Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, S.Sos., M.Si., M.Sc., dan diikuti oleh seluruh prajurit serta Pegawai Negeri Sipil (PNS) Makorem 072/Pamungkas. Hadir pula dalam kegiatan tersebut Kasrem 072/Pamungkas Kolonel Inf Teguh Wiratama, S.Sos., M.Han., para Kasi Korem 072/Pamungkas, para Dan/Ka Satdisjan, serta Kabalak jajaran Korem 072/Pamungkas.
Dalam kesempatan tersebut, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono membacakan amanat tertulis dari Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc. Secara akademis, amanat tersebut menggarisbawahi pentingnya strategic agility (kelincahan strategis) institusi militer dalam merespons dinamika lingkungan global, regional, maupun nasional yang bergerak secara eksponensial.

Kasad menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas capaian Program Kerja dan Anggaran Tahun 2026 yang berjalan sesuai target baseline yang ditentukan. Kinerja positif ini dinilai sebagai manifestasi dari budaya organisasi yang bersendikan disiplin, konsistensi, dan akuntabilitas personal dari seluruh elemen prajurit guna mendongkrak profesionalisme pengabdian.
Naratif krusial dalam amanat kali ini menyoroti potret makro konflik geopolitik dunia yang memicu disrupsi rantai pasok energi global. Meski ketahanan ekonomi dan domestik Indonesia dikategorikan relatif stabil, Kasad mengingatkan agar seluruh elemen bangsa tidak terjebak dalam kepuasan semu (complacency).
Kewaspadaan multidimensi mutlak diperlukan, terutama menjelang Juni 2026, di mana proyeksi klimatologi memprediksi terjadinya kemarau panjang dan kekeringan ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia.
Sebagai langkah preventif-progresif, TNI AD telah mengimplementasikan kebijakan green resource management melalui pembentukan gugus tugas khusus di tingkat satuan jajaran. Langkah konkret ini diorientasikan pada optimalisasi sumber daya dan efisiensi konsumsi energi nasional—seperti BBM, gas, listrik, dan air—guna mendukung kebijakan fiskal dan lingkungan pemerintah.
Baca juga : Pendekatan Dua Arah dalam Evaluasi Operasi Antik Toba Padang Lawas
Lebih dari sekadar fungsi pertahanan konvensional, paradigma TNI AD saat ini semakin menekankan pada implementasi civic mission (tugas kemanusiaan). Berbagai program unggulan struktural, mulai dari pembangunan jembatan penyeberangan di daerah terisolasi, karya bakti massal, hingga operasi teritorial komprehensif, terbukti berhasil memicu stimulan ekonomi dan sosial kemasyarakatan.
“Seluruh prajurit dituntut untuk terus menumbuhkan nalar kreatif, inovatif, dan memelihara pemikiran yang berorientasi pada solusi masyarakat,” tegas Kasad dalam amanat yang dibacakan Danrem.
Menutup amanat tersebut, pucuk pimpinan TNI AD menekankan pentingnya kearifan dalam penyelesaian konflik (conflict resolution), penguatan kohesi sosial melalui budaya gotong royong, serta dukungan linier terhadap agenda strategis pemerintah dalam mitigasi energi dan penguatan jaring pengaman sosial nasional.
Pewarta: Lee anno

