RI News. Pesisir Selatan, 11 Mei 2026 — Hujan deras yang mengguyur wilayah Pesisir Selatan hanya selama kurang lebih dua jam pada Minggu sore (10/5/2026) telah memicu banjir bandang yang tak terduga. Akibatnya, arus lalu lintas provinsi di jalur Bengkulu-Padang lumpuh total. Ratusan kendaraan roda dua, roda empat, hingga roda enam terjebak di kawasan Bukit Buai, Kecamatan Pancung Soal.
Sekitar pukul 15.30 WIB, seorang awak media yang sedang melintas dari arah Basa Ampek Balai Tapan menuju Pancung Soal menyaksikan langsung antrean panjang kendaraan yang tak bisa melanjutkan perjalanan. Genangan air dan material lumpur yang menyumbat jalan provinsi tersebut membuat lalu lintas lumpuh selama berjam-jam.
Seorang warga setempat yang enggan disebut namanya mengungkapkan akar masalah di balik banjir mendadak ini. Menurutnya, kawasan Bukit Barisan di Pesisir Selatan, khususnya Bukit Barisan Sungai Kuyuang, kini nyaris tandus.
“Hutan di bukit barisan sudah hampir punah. Banyak yang ditanami kelapa sawit oleh oknum-oknum serakah. Bahkan hutan produksi terbatas (HPT) ada yang diperjualbelikan,” ujarnya dengan nada prihatin.

Padahal, regulasi kehutanan secara tegas melarang penanaman kelapa sawit di kawasan Hutan Produksi Terbatas. Jenis tanaman yang seharusnya dikembangkan di lahan tersebut adalah tanaman multipurpose seperti durian, jengkol, petai, kopi, dan kelapa. Tanaman-tanaman ini memiliki sistem perakaran yang lebih baik dalam menahan erosi dan menyerap air hujan dibandingkan monokultur sawit yang cenderung mengurangi daya resapan tanah.
Alih-alih menjaga fungsi hutan sebagai penyangga ekologis, oknum-oknum tidak bertanggung jawab justru memprioritaskan keuntungan ekonomi jangka pendek. Akibat pembabatan hutan secara masif, kemampuan kawasan dalam menahan air hujan menurun drastis. Hujan deras walau hanya sebentar pun langsung memicu aliran permukaan yang besar, membawa lumpur dan material kayu ke badan jalan provinsi.
Para ahli lingkungan sering mengingatkan bahwa konversi hutan alam menjadi perkebunan monokultur di kawasan rawan longsor dan banjir seperti Pesisir Selatan akan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi. Kasus di Bukit Buai kemarin menjadi bukti nyata betapa rapuhnya infrastruktur jalan lintas utama ketika tutupan hutan di hulu semakin menipis.
Baca juga : Petugas Lantas Temukan Puluhan Pelanggaran Tanpa Helm Setiap Pagi di Melawi
Pihak terkait diharapkan segera mengambil langkah tegas. Pejabat kehutanan Provinsi Sumatera Barat, khususnya Dinas Kehutanan Pesisir Selatan, diminta melakukan peninjauan lapangan mendalam terhadap status kawasan HPT yang diduga telah beralih fungsi. Sanksi tegas terhadap pelaku pembabatan dan peredaran lahan hutan ilegal menjadi kebutuhan mendesak agar peristiwa serupa tidak terulang.
Sementara itu, warga dan pengguna jalan lintas Bengkulu-Padang masih harus bersabar hingga genangan surut dan material lumpur dibersihkan. Kejadian ini kembali mengingatkan semua pihak bahwa kelestarian hutan bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga soal keselamatan infrastruktur dan mobilitas masyarakat di wilayah rawan bencana.
Pewarta: Sami.S


