RI News Portal. Jakarta, 2 Januari 2026 – Di tengah ketidakpastian perekonomian dunia yang dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas, tensi geopolitik, dan perlambatan permintaan global, Indonesia berhasil mempertahankan momentum surplus neraca perdagangan sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Capaian ini mencerminkan resiliensi sektor eksternal ekonomi nasional, di mana ekspor nonmigas berperan sebagai pilar utama dalam menyangga kinerja perdagangan luar negeri.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menekankan bahwa surplus perdagangan nasional secara konsisten tercatat positif selama periode tersebut, mencapai 35,88 miliar dolar Amerika Serikat. “Neraca perdagangan kita konsisten menjaga dan mengalami surplus perdagangan sepanjang periode Januari hingga Oktober tahun 2025. Sepanjang Januari hingga Oktober tersebut tercatat surplus sebesar 35,88 miliar USD,” ungkapnya pada acara pembukaan perdagangan bursa berjangka komoditi tahun 2026 di Jakarta.
Surplus ini terutama didorong oleh performa ekspor yang melampaui impor, dengan nilai ekspor nasional mencapai 234,04 miliar dolar AS dan impor sebesar 198,16 miliar dolar AS. Dominasi sektor nonmigas semakin menonjol, di mana ekspor nonmigas berkontribusi hingga 223,12 miliar dolar AS, sementara sisanya sekitar 10,93 miliar dolar AS berasal dari sektor migas. Komoditas unggulan seperti lemak dan minyak hewan/nabati—termasuk minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO)—menempati posisi teratas dalam daftar ekspor terbesar, yang menunjukkan potensi hilirisasi dan keberlanjutan rantai pasok sebagai kunci daya saing global.

Dari perspektif akademis, ketahanan ini dapat dianalisis melalui lensa teori keunggulan komparatif dan diversifikasi ekspor. Di saat banyak negara berkembang menghadapi defisit perdagangan akibat penurunan harga komoditas energi dan mineral, Indonesia berhasil memanfaatkan permintaan stabil terhadap produk agro-industri. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam mengelola volatilitas harga global melalui instrumen keuangan derivatif.
Di sinilah peran perdagangan berjangka komoditi menjadi semakin relevan. Dyah Roro Esti menilai bahwa penguatan komoditas unggulan melalui mekanisme bursa berjangka esensial untuk pembentukan harga yang transparan dan pengelolaan risiko harga. Instrumen ini tidak hanya melindungi produsen dari fluktuasi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan investor serta mendukung stabilitas pendapatan negara.
Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Tirta Karma Senjaya melaporkan pertumbuhan signifikan industri ini sepanjang 2025. Volume transaksi hingga November mencapai 14,56 juta lot, naik 12 persen dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya. Secara nilai transaksi (notional value), capaian mencapai Rp42.867 triliun, tumbuh impresif sebesar 49,8 persen. “Angka tersebut tumbuh sebesar 49,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu,” jelas Tirta.
Baca juga : Penyesuaian Strategi Fiskal: Penarikan Dana Pemerintah dan Implikasinya terhadap Stimulus Ekonomi
Pertumbuhan ini mengindikasikan maturitas pasar berjangka sebagai alat hedging dan price discovery yang efektif. Dalam konteks ekonomi makro, perdagangan berjangka berkontribusi pada penguatan ketahanan eksternal dengan menciptakan referensi harga yang terorganisir, sehingga mengurangi ketergantungan pada fluktuasi pasar spot internasional.
Secara keseluruhan, kinerja perdagangan Indonesia pada 2025 menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan ekspor berbasis komoditas unggulan dan pengembangan instrumen keuangan derivatif. Di tengah proyeksi pemulihan ekonomi global yang masih rapuh pada 2026, strategi ini dapat menjadi fondasi untuk mempertahankan surplus perdagangan sambil mendorong transformasi struktural menuju ekonomi yang lebih resilien dan berkelanjutan.
Pewarta : Yudha Purnama

