RI News. Dubai, United Arab Emirates — Kematian mendadak Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran selama lebih dari tiga dekade, telah membuka babak baru ketidakpastian di Timur Tengah. Pemimpin berusia 86 tahun itu tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu dini hari, yang menurut sumber militer AS dan Israel ditujukan secara presisi terhadap kediaman resminya di Teheran.
Konfirmasi resmi dari media negara Iran menyatakan bahwa Khamenei mencapai “syahid” saat menjalankan tugasnya, disertai pengumuman masa berkabung selama 40 hari. Serangan awal itu juga menewaskan puluhan pejabat senior, termasuk beberapa komandan tinggi Garda Revolusi, menciptakan kekosongan kepemimpinan yang belum pernah terjadi sejak berdirinya Republik Islam pada 1979.
Perang yang kini memasuki hari kedua menunjukkan eskalasi cepat. Iran membalas dengan peluncuran rudal balistik ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk. Di sisi lain, pesawat tempur Israel melanjutkan gelombang serangan baru ke sasaran militer dan infrastruktur di jantung Teheran, sementara jet siluman B-2 AS menghantam fasilitas rudal balistik Iran dengan bom berdaya ledak tinggi.

Militer AS melaporkan tiga prajuritnya gugur dan lima lainnya luka parah dalam aksi balasan Iran, menandai korban pertama dari pihak Amerika dalam konflik ini. Di Israel, serangan rudal Iran menewaskan sembilan warga sipil di sebuah sinagoge di Beit Shemesh, menambah total korban jiwa menjadi 11 orang, dengan beberapa lainnya masih dinyatakan hilang di bawah reruntuhan.
Di Iran, angka korban sipil terus bertambah. Lebih dari 200 orang dilaporkan tewas sejak serangan dimulai, termasuk insiden tragis di selatan negara itu di mana sebuah sekolah perempuan terkena hantaman, menewaskan sedikitnya 165 jiwa. Pihak berwenang Iran menyalahkan serangan tersebut pada koalisi AS-Israel, meskipun militer Israel menyatakan tidak menargetkan area sipil dan sedang menyelidiki klaim tersebut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam pesan rekaman, mengumumkan pembentukan dewan kepemimpinan sementara untuk menjaga kestabilan negara. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa pemilihan pemimpin tertinggi baru akan dilakukan dalam satu atau dua hari ke depan, sesuai prosedur konstitusional.
Baca juga : Kobaran Api Melahap Rumah Warga di Sungai Baringin, Kerugian Capai Ratusan Juta
Presiden AS Donald Trump, melalui pernyataan di platform media sosialnya, menyebut operasi militer “berjalan lebih cepat dari jadwal” dan mengklaim telah menghancurkan sembilan kapal perang Iran serta markas angkatan lautnya. Ia juga menyatakan kesediaan berunding dengan kepemimpinan baru Iran, sambil memperingatkan keras agar Teheran tidak membalas lebih lanjut, dengan ancaman “kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya”.
Reaksi di dalam negeri Iran terbelah. Di beberapa kawasan Teheran, saksi mata melaporkan adanya sorak-sorai dari atap rumah sebagai ekspresi kegembiraan atas akhir era Khamenei, sementara di kota suci Mashhad, bendera hitam dikibarkan di makam Imam Reza sebagai tanda duka mendalam. Pasukan paramiliter Basij mendirikan pos pemeriksaan di berbagai titik kota untuk mencegah kerusuhan, sementara jalan-jalan ibu kota tampak sepi karena warga berlindung dari serangan udara berkelanjutan.
Baca juga : Kobaran Api Melahap Rumah Warga di Sungai Baringin, Kerugian Capai Ratusan Juta
Secara internasional, kematian Khamenei memicu seruan de-eskalasi dari berbagai pihak. Uni Eropa menyebutnya sebagai “momen penentu” bagi masa depan Iran, sementara Rusia mengkritik keras serangan tersebut sebagai “pelanggaran norma kemanusiaan”. Di Teluk, serangan rudal Iran juga mengenai target non-militer, termasuk sebuah hotel di Dubai dan bandara Kuwait, menewaskan setidaknya empat orang dan mengganggu lalu lintas udara regional.
Konflik ini berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global, khususnya jika Iran mengancam lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Sementara proses suksesi kepemimpinan berlangsung di balik layar, pertanyaan besar menggantung: apakah kekosongan kekuasaan ini akan mempercepat perubahan internal di Iran, atau justru memicu perpecahan lebih dalam di tengah tekanan militer luar? Hingga kini, tanda-tanda pemberontakan massal terhadap pemerintahan belum terlihat jelas, meskipun ketegangan sosial yang terpendam selama bertahun-tahun kini berada di ambang ledakan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

