RI News. Semarang 2 Maret 2026 — Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 menandai peristiwa paling dramatis dalam sejarah Republik Islam Iran sejak revolusi 1979. Konfirmasi resmi dari media negara Iran pada Minggu pagi telah memicu gelombang reaksi global, mulai dari duka mendalam di kalangan pendukung rezim hingga harapan perubahan di kalangan oposisi internal yang telah lama tertekan.
Serangan yang diberi nama sandi “Operation Epic Fury” oleh pihak AS dan “Roaring Lion” oleh Israel menargetkan infrastruktur militer kunci, termasuk pusat komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), situs peluncuran rudal balistik, sistem pertahanan udara, serta fasilitas yang diduga terkait program nuklir. Salah satu serangan presisi pertama mengenai kompleks kediaman dan kantor Khamenei di Teheran, menewaskan sang pemimpin berusia 86 tahun yang telah memegang kekuasaan absolut sejak menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989.

Menurut laporan Palang Merah Iran dan sumber resmi Teheran, korban jiwa di wilayah Iran telah melampaui 200 orang, termasuk puluhan pejabat senior militer dan sipil. Klaim Israel menyebutkan sedikitnya 48 tokoh penting rezim telah tewas dalam gelombang awal serangan. Di sisi lain, serangan balasan Iran menggunakan rudal dan drone menyasar Israel serta instalasi militer AS di kawasan Teluk Persia, termasuk Dubai sebagai pusat ekonomi regional. Korban di Israel dilaporkan mencapai belasan jiwa, sementara tiga prajurit AS tewas dan beberapa lainnya luka-luka menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM).
Transisi kepemimpinan di Iran kini memasuki fase kritis. Majelis Ahli (Assembly of Experts) — badan 88 ulama senior yang bertugas memilih pemimpin tertinggi — dihadapkan pada tugas mendesak menunjuk pengganti Khamenei di tengah kekacauan militer dan ekonomi yang semakin memburuk. Sementara itu, dewan pemerintahan sementara yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, serta seorang perwakilan Dewan Wali telah mengambil alih kendali transisi. Periode berkabung nasional selama 40 hari telah diumumkan, namun ketegangan internal antara faksi garis keras dan elemen yang lebih pragmatis berpotensi memicu perpecahan lebih lanjut.
Baca juga : Kematian Khamenei Guncang Iran: Perang Terbuka AS-Israel Memasuki Hari Kedua dengan Korban Melonjak
Dari perspektif geopolitik, peristiwa ini memperdalam polarisasi regional. Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer “berjalan di depan jadwal” dan menyatakan kesiapan bernegosiasi dengan “kepemimpinan baru” Iran, sambil mendesak rakyat Iran untuk “merebut kembali negara mereka”. Di pihak lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut serangan tersebut sebagai “deklarasi perang terbuka terhadap umat Islam”, sementara sekutu Iran seperti Houthi di Yaman menyatakan akan memperluas serangan terhadap jalur pelayaran Laut Merah dan target Israel.
Dampak ekonomi global mulai terasa. Penutupan wilayah udara di beberapa negara Teluk telah mengganggu ratusan ribu penerbangan, sementara ancaman penutupan Selat Hormuz — jalur transit seperlima perdagangan minyak dunia — memicu lonjakan harga energi. Perusahaan pelayaran internasional menghentikan sementara lalu lintas melalui Terusan Suez, menambah tekanan pada rantai pasok global.

Para analis melihat kematian Khamenei sebagai momen penentu yang dapat mengarah pada dua skenario ekstrem: rekonsiliasi melalui negosiasi di bawah tekanan militer, atau eskalasi menjadi konflik regional berkepanjangan yang melibatkan proksi Iran di Lebanon, Irak, Yaman, dan Suriah. Dalam konteks historis, peristiwa ini mengingatkan pada kerapuhan sistem teokrasi ketika pemimpin karismatik tunggal lenyap, terutama di tengah sanksi ekonomi berkepanjangan dan gelombang protes masyarakat yang sempat mereda namun kini berpotensi bangkit kembali.
Sementara dunia menanti langkah selanjutnya dari Majelis Ahli dan respons militer lanjutan, satu hal jelas: kematian Ayatollah Khamenei bukan sekadar akhir dari sebuah era, melainkan awal dari ketidakpastian yang mendalam bagi Iran dan stabilitas Timur Tengah secara keseluruhan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

