Skip to content
19/01/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Budaya
  • Hiburan
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • World
  • Kemajuan Diplomatik AS-Ukraina: 18 Poin Kesepakatan Damai Tercapai, Isu Sensitif Masih Menggantung

Kemajuan Diplomatik AS-Ukraina: 18 Poin Kesepakatan Damai Tercapai, Isu Sensitif Masih Menggantung

Jurnalis RI News Portal Posted on 2 bulan ago 4 min read
18 Poin Kesepakatan Damai Tercapai Isu Sensitif Masih Menggantung
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News Portal. Jakarta 28 November 2025 – Dalam perkembangan yang menandai langkah bersejarah menuju penyelesaian konflik berkepanjangan di Eropa Timur, delegasi Amerika Serikat dan Ukraina telah menyepakati 18 dari 20 ketentuan utama dalam draf perjanjian damai yang muncul dari putaran perundingan intensif di Jenewa. Kesepakatan ini, yang menyusut dari proposal awal berisi 28 poin, merepresentasikan kompromi diplomatik yang hati-hati, di mana kedua pihak saling mengalah untuk membuka jalan bagi perdamaian berkelanjutan. Namun, dua isu krusial yang tersisa—diduga berkaitan dengan sengketa wilayah dan bentuk jaminan keamanan jangka panjang—tetap menjadi penghalang, menuntut intervensi langsung dari pemimpin tertinggi kedua negara.

Perundingan Jenewa, yang berlangsung selama dua hari akhir pekan lalu, dipicu oleh inisiatif perdamaian Presiden AS Donald Trump yang diluncurkan pasca-pertemuan di Gedung Putih pada 18 November. Rencana awal tersebut, yang didukung kuat oleh Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, awalnya memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Ukraina karena menuntut konsesi signifikan dari Kyiv, termasuk pengakuan atas kendali Rusia atas sebagian wilayah timur, pembatasan ukuran pasukan bersenjata, dan komitmen permanen untuk menjauhi integrasi dengan aliansi pertahanan Atlantik Utara. Meskipun demikian, revisi yang dilakukan selama diskusi di Jenewa berhasil memodifikasi elemen-elemen tersebut menjadi kerangka yang lebih seimbang, dengan penekanan pada prinsip-prinsip keamanan kolektif yang mirip dengan mekanisme pertahanan bersama.

Analisis mendalam terhadap dinamika negosiasi ini mengungkapkan pola diplomasi pragmatis yang dipengaruhi oleh konteks geopolitik pasca-pemilu AS. Trump, yang dikenal dengan pendekatan “deal-making” langsung, tampaknya memanfaatkan momentum pasca-kesepakatan gencatan senjata di Timur Tengah untuk mendorong kerangka serupa di Ukraina. Dukungan dari Vance dan Rubio, yang sering dispekulasikan mengalami perpecahan internal, justru terbukti sebagai kolaborasi strategis yang solid. Sumber dekat dengan proses tersebut menegaskan bahwa keduanya berfungsi sebagai “tim kohesif,” dengan Rubio memimpin dialog teknis di Jenewa sementara Vance mengoordinasikan aspek domestik di Washington. Pendekatan ini kontras dengan narasi spekulatif yang beredar, yang cenderung melebih-lebihkan ketegangan internal sebagai faktor penghambat.

Dari perspektif Ukraina, kesepakatan parsial ini mencerminkan kesiapan Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk maju dalam diplomasi, meskipun dengan syarat bahwa isu sensitif seperti integritas teritorial dan jaminan keamanan harus diselesaikan melalui dialog bilateral dengan Trump. Sebelumnya, pejabat Ukraina telah menyinggung kepada outlet keuangan internasional bahwa keputusan akhir akan bergantung pada pertemuan puncak antara kedua pemimpin, yang potensial digelar dalam waktu dekat—mungkin bahkan sebelum akhir bulan ini. Zelenskyy, dalam pidato terbarunya kepada koalisi pendukung internasional, menekankan bahwa Kyiv siap “melangkah maju” dengan kerangka yang direvisi, sambil menuntut keterlibatan mitra Eropa untuk memastikan implementasi yang adil. Pernyataan ini tidak hanya menunjukkan optimisme Kyiv terhadap proses, tetapi juga strategi untuk menyeimbangkan tekanan dari Washington dengan dukungan kontinental yang lebih luas.

Secara akademis, kemajuan ini dapat dianalisis melalui lensa teori realisme struktural, di mana kekuatan bargaining AS sebagai aktor dominan memaksa kompromi dari kedua belah pihak yang bertikai. Proposal awal Trump, yang menuntut konsesi Ukraina yang substansial, awalnya dilihat sebagai kemiringan pro-Rusia, mengingat elemen-elemen seperti amnesti bagi pelaku dugaan kejahatan perang dan pembentukan kelompok kerja keamanan bersama AS-Rusia. Namun, modifikasi di Jenewa—yang mempersempitnya menjadi 20 poin—telah memperkenalkan elemen baru, seperti komisi pemantauan yang dipimpin oleh mitra Eropa dengan partisipasi AS, serta komitmen untuk kerjasama ekonomi jangka panjang di bidang energi dan sumber daya alam. Ini menandakan pergeseran dari pendekatan unilateral menuju multilateralisme terstruktur, yang berpotensi mengurangi risiko pelanggaran pasca-perjanjian.

Baca juga : Kebijakan Dana Desa 2025: Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Tahap II, Pakar Nilai Rawan Penyelewengan dan Beban Baru bagi Desa

Meskipun demikian, tantangan ke depan tetap kompleks. Dua poin yang belum terselesaikan bukan hanya isu teknis, melainkan simbolis dari kedaulatan nasional Ukraina. Sengketa wilayah, khususnya di Donetsk dan wilayah timur lainnya, menyentuh inti dari narasi perlawanan Kyiv terhadap agresi Rusia sejak 2022. Sementara itu, jaminan keamanan AS—yang diusulkan sebagai kerangka 10 tahun yang dapat diperpanjang—harus meyakinkan bagi Ukraina tanpa memprovokasi eskalasi dari Moskow. Rusia, yang belum secara resmi merespons draf revisi, telah menyiratkan melalui saluran tidak resmi bahwa kesepakatan harus selaras dengan pemahaman sebelumnya antara Trump dan Presiden Vladimir Putin, termasuk tuntutan utama Kremlin seperti non-agresi komprehensif dan batasan militer Ukraina.

Implikasi jangka panjang dari kesepakatan ini melampaui Ukraina, memengaruhi stabilitas arsitektur keamanan Eropa secara keseluruhan. Jika berhasil, model ini bisa menjadi preseden untuk penyelesaian konflik hybrid modern, di mana diplomasi didukung oleh insentif ekonomi dan jaminan keamanan. Namun, kegagalan dalam menyelesaikan isu sensitif berisiko memperpanjang konflik, dengan konsekuensi kemanusiaan yang berkelanjutan—seperti serangan rudal baru-baru ini yang menewaskan warga sipil di Kyiv. Para analis internasional menyerukan keterlibatan PBB yang lebih kuat untuk memverifikasi kepatuhan, memastikan bahwa perdamaian bukan hanya kertas, tetapi realitas yang tahan lama.

Pada akhirnya, kesepakatan 18 poin ini adalah tonggak, bukan tujuan akhir. Ia menegaskan bahwa diplomasi, meskipun penuh taruhan tinggi, tetap menjadi alat paling efektif untuk mengakhiri penderitaan yang telah merenggut jutaan nyawa dan mengguncang tatanan global. Dengan pertemuan Trump-Zelenskyy di depan mata, dunia menanti apakah visi “terobosan” ini akan terwujud, atau kembali menjadi korban dinamika kekuasaan yang tak kenal kompromi.

Pewarta : Setiawan Wibisono

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Kebijakan Dana Desa 2025: Koperasi Merah Putih Jadi Syarat Wajib Tahap II, Pakar Nilai Rawan Penyelewengan dan Beban Baru bagi Desa
Next: Pemerintah Salurkan 32.700 Ton Beras dan 6.300 Ton Minyak Goreng untuk Korban Banjir di Tiga Provinsi Sumatera

Related Stories

Eskalasi Ketegangan Politik di Era Pemerintahan Trump
3 min read

Bentrokan Protes Imigrasi di Minneapolis: Eskalasi Ketegangan Politik di Era Pemerintahan Trump

Jurnalis RI News Portal Posted on 21 jam ago 0
Pidato Khamenei dan Respons Trump Menyoroti Krisis Kepemimpinan dan Kedaulatan
3 min read

Ketegangan Iran-AS: Pidato Khamenei dan Respons Trump Menyoroti Krisis Kepemimpinan dan Kedaulatan

Jurnalis RI News Portal Posted on 21 jam ago 0
Upaya Diplomasi Ukraina di Washington Berlangsung di Tengah Eskalasi Serangan Energi Rusia
3 min read

Upaya Diplomasi Ukraina di Washington Berlangsung di Tengah Eskalasi Serangan Energi Rusia

Jurnalis RI News Portal Posted on 21 jam ago 0
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video

Komentar

  1. Sami.s mengenai Kota Kediri Naik Kelas: Predikat “Sangat Inovatif” dalam Innovative Government Award 2025
  2. Sami.s mengenai Dugaan Penyalahgunaan Solar Bersubsidi di Pesisir Selatan: Antara Keluhan Masyarakat dan Kebijakan Pembatasan Provinsi
  3. Adi tanjoeng mengenai Petugas Karantina Ketapang Gagalkan Penyelundupan 120 Kg Hiu Dilindungi CITES di Banyuwangi
  4. Sugeng Rudianto mengenai Polres Wonogiri Perkuat Pencegahan Bullying melalui Pendekatan Edukasi Dini di Sekolah Dasar
  5. Sami.s mengenai Iran dan Rusia Sepakat Perluas Model Kerja Sama Pertanian ke Sektor Strategis Lainnya

Berita Video

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Awal Tahun 2026: Lonjakan Produksi Industri Manufaktur Tunjukkan Ketahanan Ekonomi Nasional
  • Prabowo dan Jokowi Bersama Sahkan Ijab Kabul: Momen Hangat di Pernikahan Orang Kepercayaan
  • Doa Bersama Tokoh Adat, Spiritual, dan Lintas Agama Kawal Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara
  • Ribuan Umat Hindu Berdoa di Joglo Pesantren: Klaten Menulis Babak Baru Harmoni Lintas Iman
  • Padang Perluas Akses Pendidikan Internasional melalui Kerja Sama dengan Guangdong
Copyright © RI News Production | PT. Virnanda Creator Productions | Editor IT. Setiawan Wibisono.