RI News. Wonogiri – Malam Senin (16 Maret 2026) berubah mencekam bagi warga Dusun Watugede, Desa Jatisrono, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri. Api tiba-tiba membara di dapur penggorengan tahu milik Sunarto, membakar sebagian bangunan produksi rumahan yang menjadi sumber penghidupan keluarga tersebut. Namun, berkat respons cepat warga sekitar dan tim penanggulangan bencana, kobaran api berhasil diredam sebelum meluas ke bangunan tetangga maupun pemukiman padat.
Bayu Dian Permadi, yang terlibat dalam pemantauan awal kejadian, menjelaskan bahwa api pertama kali terdeteksi muncul dari area tungku penggorengan. Diduga, sisa bara dari bahan bakar sekam padi dan kulit mete yang belum benar-benar padam memicu kobaran baru. “Bara dari bahan bakar tersebut kemudian memicu api yang akhirnya melalap bagian dapur penggorengan,” ujar Dian Selasa (17/3/2026).
Pemilik usaha Sunarto segera meminta tolong warga tetangga. Dalam hitungan menit, belasan warga berdatangan membawa ember, selang air, dan peralatan seadanya. Mereka kemudian menghubungi Tim Reaksi Cepat (TRC) Kecamatan Sidoharjo. Tak lama, dua unit mobil pemadam kebakaran beserta delapan personel Damkar Wonogiri tiba di lokasi. Tim yang dipimpin Komandan Regu R3 Setyo Pamungkas langsung melakukan penyiraman intensif dan pendinginan menyeluruh.

Proses pemadaman berlangsung hingga dini hari Selasa (17 Maret 2026). Unsur gabungan—warga Dusun Watugede, TRC Sidoharjo, Damkar Wonogiri, Polsek Jatisrono, serta Koramil Jatisrono—bekerja bahu-membahu. Pengecekan titik-titik panas dilakukan berulang hingga pukul 02.30 WIB, memastikan tidak ada bara tersisa di tumpukan sekam yang mudah menyala kembali.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini. Kerugian material pun relatif terbatas pada bagian dapur penggorengan. Penyebab pasti kebakaran dikonfirmasi berasal dari sisa bara sekam dan kulit mete yang digunakan sebagai bahan bakar tungku tradisional—ciri khas industri tahu rumahan di wilayah ini.
Baca juga ; Di Tengah Horeg Sound System, PASSNO Bagikan 1.000+ Takjil Gratis Jelang Maghrib Ramadhan
Insiden ini kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam usaha kecil berbasis bahan organik yang mudah terbakar. Di tengah keterbatasan alat pemadam di tingkat rumah tangga, semangat gotong royong dan koordinasi cepat antarunsur menjadi kunci utama menjaga keselamatan komunitas. Sunarto dan keluarga kini bisa melanjutkan aktivitas produksi setelah membersihkan sisa-sisa kebakaran, berkat solidaritas tetangga dan aparat yang sigap.
Pewarta: Nandar Suyadi

