RI News Portal. Paris – Pulau Greenland kembali menjadi pusat perhatian geopolitik global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia Davos pekan ini, menegaskan kembali pentingnya wilayah semi-otonom milik Denmark itu bagi keamanan nasional AS. Kali ini, ia mengaitkannya secara langsung dengan proyek ambisius bernama “Golden Dome”—sistem pertahanan rudal berlapis yang dirancang untuk melindungi daratan Amerika dari ancaman balistik dan hipersonik.
Konsep “Golden Dome” yang diumumkan sejak pertengahan 2025 ini digadang-gadang sebagai evolusi modern dari gagasan “Star Wars” era Reagan, dengan anggaran mencapai miliaran dolar dan target operasional penuh sebelum 2029. Trump berulang kali menyatakan bahwa lokasi Greenland—tepat di jalur lintasan rudal balistik antarbenua (ICBM) dari Rusia atau China menuju target di AS—menjadikannya titik krusial. Rudal-rudal tersebut, jika diluncurkan dalam skenario konflik hipotetis, akan melintas di atas wilayah Arktik, termasuk Greenland, memberikan waktu respons lebih panjang bagi sistem peringatan dini AS.
Pangkalan Luar Angkasa Pituffik (dahulu Thule Air Base) di Greenland utara sudah lama menjadi salah satu mata paling tajam Pentagon. Radar AN/FPS-132 di sana mampu mendeteksi peluncuran rudal dari jarak ribuan kilometer, termasuk dari silo-silo di Rusia atau ladang silo baru di China. Lokasi di atas Lingkar Arktik memungkinkan pantauan menyeluruh terhadap potensi ancaman dari utara. Para analis pertahanan mengakui nilai strategis ini: Greenland memberikan AS keunggulan waktu berharga untuk menganalisis dan merespons serangan.

Namun, argumen Trump bahwa kepemilikan penuh atas Greenland mutlak diperlukan untuk “Golden Dome” menuai kritik tajam dari pakar pertahanan. Mereka menyoroti bahwa AS telah mengoperasikan fasilitas militer di pulau itu selama puluhan tahun berdasarkan perjanjian pertahanan 1951 dengan Denmark—tanpa perlu menguasai kedaulatan. Pakar nuklir Prancis Etienne Marcuz, misalnya, menekankan bahwa radar peringatan dini serupa juga beroperasi di Inggris (Fylingdales), tanpa ada tuntutan akuisisi wilayah. Selain itu, kemajuan sensor berbasis luar angkasa yang sedang diuji coba diyakini akan mengurangi ketergantungan pada instalasi darat di Greenland.
Perkembangan terbaru menunjukkan pergeseran nada. Setelah mengancam tarif perdagangan terhadap beberapa negara Eropa—termasuk Denmark—untuk memaksa negosiasi, Trump mengumumkan adanya “kerangka kesepakatan masa depan” dengan Sekjen NATO Mark Rutte. Kesepakatan itu disebut mencakup akses militer luas AS ke Greenland, kolaborasi dalam “Golden Dome”, serta hak atas sumber daya mineral kritis di Arktik. Trump menegaskan AS akan memperoleh “akses total dan permanen” tanpa batas waktu, meski ia juga menyatakan tidak akan menggunakan kekerasan.
Baca juga : Pemindahan Massal Tahanan ISIS: Dari Penjara Suriah ke Irak, Pencegahan atau Risiko Baru?
Pernyataan ini memicu respons beragam. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan kedaulatan wilayahnya tidak bisa ditawar, sambil menyatakan kesiapan berdialog konstruktif soal penguatan keamanan Arktik—dengan syarat menghormati integritas teritorial. Di sisi lain, penduduk Greenland dan pemimpin lokal terus menolak gagasan penjualan atau pengalihan kedaulatan, menekankan prinsip “tidak ada keputusan tentang kami tanpa kami”.
Di balik retorika keamanan, isu ini mencerminkan persaingan besar kekuatan di Arktik yang semakin terbuka akibat perubahan iklim. Rusia dan China aktif memperluas kehadiran militer dan ekonomi di kawasan itu, sementara NATO berupaya memperkuat postur pertahanannya. Greenland, dengan cadangan mineral langka yang vital bagi teknologi modern, menjadi arena tarik-menarik antara kepentingan strategis dan hak penentuan nasib sendiri.
Meski “kerangka kesepakatan” ini membuka jalan dialog, detailnya masih samar dan negosiasi diprediksi panjang. Yang jelas, ambisi “Golden Dome” Trump telah menempatkan Greenland bukan sekadar pulau es terpencil, melainkan elemen sentral dalam arsitektur pertahanan global abad ke-21.
Pewarta : Anjar Bramantyo

