Kediri, Jawa Timur – Upaya membangun fondasi keuangan yang kuat bagi generasi muda terus digencarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Kediri. Kali ini, fokus ditujukan pada pelajar sekolah menengah pertama melalui program inovatif bernama School of Syariah (SOS), yang dirancang khusus untuk memperkenalkan literasi keuangan berbasis syariah sejak usia dini.
Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, menekankan bahwa pendidikan keuangan tidak boleh ditunda hingga dewasa. “Capaian literasi menjadi modal krusial untuk mendorong inklusi keuangan syariah yang lebih luas,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Kediri, Rabu lalu. Menurutnya, pemahaman sejak kecil akan membentuk kebiasaan bijak dalam mengelola uang, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri generasi muda dalam memanfaatkan produk keuangan yang sesuai prinsip syariah.
Program School of Syariah kali ini dilaksanakan di Kabupaten Ngawi, sebagai hasil kolaborasi erat antara OJK Kediri, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) setempat, serta PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Kabupaten Ngawi (Perseroda). Sebanyak 200 pelajar SMP turut serta dalam sesi edukasi interaktif tersebut.

Para siswa mendapatkan pemahaman mendalam tentang berbagai aspek pengelolaan keuangan, mulai dari cara mengatur uang saku secara disiplin, pentingnya menabung rutin, hingga kewaspadaan terhadap ancaman keuangan ilegal seperti pinjaman online bodong dan aktivitas judi daring yang semakin marak. Mereka juga diperkenalkan secara langsung dengan beragam produk serta layanan perbankan syariah yang resmi, terdaftar, dan diawasi ketat oleh OJK—sehingga mampu membedakan mana yang aman dan halal.
“Ismirani menambahkan, melalui School of Syariah, pihaknya ingin generasi muda tidak sekadar mengenal konsep keuangan syariah, melainkan mampu menerapkannya secara bertanggung jawab dan penuh keyakinan. “Inilah langkah nyata membuka jalan kebaikan bersama melalui keuangan syariah,” tuturnya.
Data terbaru dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK tahun 2025 menunjukkan tren positif sekaligus tantangan yang masih ada. Tingkat literasi keuangan syariah masyarakat Indonesia telah mencapai 43,42 persen, sementara inklusi keuangan syariah tercatat 13,41 persen. Angka inklusi yang relatif rendah ini menandakan masih terbukanya peluang besar untuk pertumbuhan, terutama jika edukasi ditingkatkan sejak dini seperti yang dilakukan di Ngawi.
Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, turut hadir dan menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif tersebut. Ia menyebut kegiatan semacam ini sebagai investasi jangka panjang bagi pembentukan karakter generasi yang mandiri dan cerdas finansial. “Kami berharap para pelajar ini kelak menjadi agen perubahan, menyebarkan pemahaman literasi keuangan syariah di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar,” katanya.
Kegiatan School of Syariah di Ngawi ini merupakan bagian integral dari kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026, yang mengusung tema “Membuka Jalan Kebaikan Bersama Keuangan Syariah”. Melalui rangkaian program ini di berbagai daerah, OJK berupaya memanfaatkan momentum Ramadan untuk mempercepat penyebaran pemahaman dan pemanfaatan keuangan syariah yang inklusif, aman, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa.
Pewarta : Wisnu Harmoko

