RI News. Klaten – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Klaten sejak Selasa (14/4/2026) malam kembali memicu luapan sungai setempat, menyebabkan genangan air yang merendam ruas Jalan Raya Daleman–Karangdowo di Desa Carikan, Kecamatan Juwiring. Kejadian ini mengganggu lalu lintas kendaraan roda dua yang kerap menjadi jalur alternatif menuju Sukoharjo dan Solo.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB Rabu (15/4/2026), air masih menggenangi badan jalan dengan kedalaman yang cukup signifikan. Beberapa pengendara sepeda motor terpaksa mendorong kendaraannya setelah mesin mogok saat melintasi genangan. Situasi ini tidak hanya memperlambat arus lalu lintas, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi warga sekitar.
Di Dukuh Tuwanan, Desa Carikan, sejumlah kios di tepi jalan terpaksa tutup sementara karena terendam air. Banjir juga merembes ke jalan perkampungan di Dukuh Padangan, semakin menyulitkan mobilitas warga sehari-hari.
Salah seorang warga, Joko (39), mengungkapkan bahwa banjir mulai merendam area tersebut sejak Selasa dini hari sekitar pukul 24.00 WIB. “Air berasal dari luapan sungai setelah hujan deras. Bengkel di sini yang paling sering kena dampak, terpaksa tutup,” ujarnya sambil menunjuk salah satu bengkel yang terendam.

Menurut Joko, banjir akibat luapan sungai di kawasan ini merupakan masalah kronis yang kerap muncul setiap musim hujan. Bahkan sepanjang musim hujan tahun ini, genangan serupa sudah terjadi setidaknya tiga kali. “Harapan kami ada saluran yang memadai agar air tidak meluap ke jalan dan perkampungan,” tambahnya.
Kejadian ini sejalan dengan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten. Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Syahruna, menyatakan bahwa hujan deras dengan intensitas tinggi pada Selasa menjadi pemicu utama banjir di beberapa titik di wilayah Klaten. Saat ini, tim BPBD masih melakukan pendataan menyeluruh terhadap dampak banjir yang terjadi di berbagai kecamatan.
Banjir genangan di jalur alternatif seperti Daleman–Karangdowo kerap menjadi sorotan karena posisinya yang strategis sebagai penghubung antarwilayah. Luapan sungai yang disebabkan oleh drainase yang belum optimal dan sedimentasi di alur sungai menjadi faktor pendukung yang sering disebut warga dan pengamat lokal. Tanpa penanganan struktural jangka panjang, seperti normalisasi sungai dan pembuatan saluran pembuang yang lebih baik, risiko serupa diprediksi akan terus berulang di musim hujan mendatang.
Baca juga : Jakarta Siap Gelar BTN JAKIM 2026: Marathon Internasional yang Makin Megah di HUT Ke-499 Ibukota
Warga berharap pemerintah daerah segera merespons dengan langkah konkret, mulai dari pembersihan alur sungai hingga pembangunan infrastruktur pencegahan banjir yang lebih permanen. Sementara itu, pengendara diimbau untuk mencari rute alternatif atau menunda perjalanan hingga genangan surut sepenuhnya guna menghindari kerusakan kendaraan dan kecelakaan.
Kondisi ini mengingatkan kembali akan pentingnya pengelolaan tata air di wilayah rawan banjir seperti Juwiring, di mana kombinasi antara curah hujan tinggi dan topografi dataran rendah sering kali memperburuk situasi. BPBD Klaten terus memantau perkembangan dan siap memberikan bantuan jika dampak semakin meluas.
Pewarta : Rendro P

