RI News. Jakarta, 11 April 2026 — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance tiba di Islamabad, Pakistan, untuk memimpin pembicaraan tingkat tinggi dengan delegasi Iran. Kunjungan ini berlangsung di tengah gencatan senjata yang masih rentan antara Washington dan Tehran, sementara konflik di Lebanon terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap menjadi titik tekanan strategis utama.
Pembicaraan yang dijadwalkan dimulai Sabtu ini bertujuan tidak hanya memperkuat gencatan senjata sementara, tetapi juga membangun kerangka kesepakatan permanen untuk mengakhiri pertempuran yang telah berlangsung sejak akhir Februari. Namun, para analis memperingatkan bahwa sejumlah isu krusial berpotensi menggagalkan proses ini.
Menurut pernyataan Vance sebelum keberangkatannya, ia optimistis negosiasi akan berjalan positif, meski ia menegaskan bahwa tim Amerika tidak akan mudah terpengaruh jika Iran mencoba “mempermainkan” posisi tawar-menawar. Delegasi Iran, yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, tiba di ibu kota Pakistan dengan komposisi tim yang mencakup perwakilan dari bidang keamanan, politik, militer, ekonomi, dan hukum.

Qalibaf sebelumnya menekankan dua prasyarat utama: penerapan gencatan senjata penuh di Lebanon serta pencairan aset Iran yang sempat dibekukan. Israel, di sisi lain, bersikeras bahwa kesepakatan dengan Iran tidak mencakup penghentian operasi militernya terhadap Hizbullah. Kelompok yang didukung Iran ini terus terlibat dalam pertukaran tembakan dengan pasukan Israel, termasuk serangan udara yang menewaskan puluhan orang di wilayah selatan Lebanon dalam 24 jam terakhir.
Dari sisi ekonomi global, penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran telah menyebabkan lonjakan harga minyak mentah Brent mencapai kisaran 97 dolar AS per barel, naik lebih dari 30 persen sejak konflik dimulai. Jalur perairan strategis ini, yang biasanya dilalui lebih dari 100 kapal setiap hari, kini hanya mencatat lalu lintas sangat minim. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran memiliki sedikit pengaruh dalam negosiasi selain “pemerasan jangka pendek” melalui pengendalian jalur perairan internasional tersebut.
Sementara itu, Kuwait melaporkan tujuh serangan drone yang diduga berasal dari milisi yang didukung Iran, meskipun pihak Garda Revolusi Iran membantah keterlibatannya. Di Lebanon, korban tewas akibat konflik telah mencapai hampir 2.000 orang, dengan lebih dari satu juta warga mengungsi. Di Iran sendiri, laporan menyebut lebih dari 3.000 korban jiwa, meski angka resmi masih belum dirilis secara lengkap.
Baca juga : Amal Jariyah dan Bahaya Aurat di Medsos: Pesan Mendalam Khotib Polisi di Masjid Shirotul Jannah
Negosiasi paralel antara Israel dan Lebanon juga dijadwalkan akan dimulai pekan depan di Washington, dengan Departemen Luar Negeri AS berperan sebagai mediator. Tujuannya adalah melucuti kemampuan militer Hizbullah dan membuka jalan normalisasi hubungan kedua negara yang secara teknis masih dalam keadaan perang sejak 1948.
Para pengamat hubungan internasional menilai situasi saat ini sebagai ujian krusial bagi diplomasi multilateral di Timur Tengah. Keberhasilan pembicaraan di Islamabad tidak hanya akan menentukan masa depan program nuklir dan rudal Iran, tetapi juga stabilitas pasokan energi global serta dinamika kekuatan antara AS, Israel, dan poros perlawanan yang didukung Tehran.
Pemerintah Lebanon di bawah Presiden Joseph Aoun menyatakan keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan damai yang mirip dengan model gencatan senjata Iran, sementara pemimpin Hizbullah Naim Kassem memperingatkan agar tidak ada konsesi sepihak dari pihak Beirut.
Dengan latar belakang ketegangan yang kompleks ini, para ahli geopolitik memandang Islamabad sebagai panggung diplomasi yang strategis. Pakistan, sebagai negara dengan hubungan baik terhadap kedua belah pihak, diharapkan dapat memfasilitasi dialog yang konstruktif. Namun, keberhasilan akhir sangat bergantung pada kemauan semua pihak untuk mengutamakan solusi jangka panjang di atas kepentingan taktis sementara.
Pewarta : Setiawan Wibisono

