RI News. Islamabad, Pakistan — Di tengah ketegangan geopolitik yang masih membara, perundingan langsung tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase krusial di Islamabad. Putaran ketiga pembicaraan ini berlangsung hingga dini hari Minggu, hanya beberapa hari setelah diumumkannya gencatan senjata rapuh selama dua minggu. Perang yang telah memasuki minggu ketujuh ini telah menewaskan ribuan nyawa dan mengganggu stabilitas pasar energi global.
Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance bertemu dengan delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, dengan Pakistan berperan sebagai mediator utama. Dua pejabat Pakistan mengungkapkan bahwa diskusi antara pimpinan delegasi akan dilanjutkan setelah jeda, sementara tim teknis dari kedua pihak masih terus bertemu untuk membahas detail teknis.
Perundingan ini menjadi yang paling langsung sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979. Sebelumnya, kontak paling signifikan terjadi pada 2013 ketika Presiden Barack Obama berbicara melalui telepon dengan Presiden Hassan Rouhani, diikuti pertemuan Menteri Luar Negeri John Kerry dan Mohammad Javad Zarif menuju Kesepakatan Nuklir 2015. Kini, cakupan pembicaraan jauh lebih luas, mencakup tidak hanya program nuklir, tetapi juga keamanan regional dan jalur perdagangan vital dunia.

Selat Hormuz kembali menjadi titik pusat perdebatan. Iran sempat menutup selat tersebut sebagai strategi perang, sehingga mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak dunia yang biasanya melintas dengan lebih dari 100 kapal setiap hari. Hanya segelintir kapal yang tercatat melintas sejak gencatan senjata. Militer AS mengklaim dua kapal perusak telah melintasi selat itu sebagai persiapan operasi pembersihan ranjau — sebuah langkah pertama sejak konflik pecah. Namun, media resmi Iran menyangkal klaim tersebut.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa proses “pembersihan” selat sedang berlangsung. “Kami sedang membersihkan selat itu. Apakah kami mencapai kesepakatan atau tidak, bagi saya tidak ada bedanya,” ujarnya kepada wartawan saat perundingan masih berlangsung di Islamabad. Ia menyebut pembicaraan tersebut “sangat mendalam”. Sementara itu, televisi negara Iran menyoroti adanya “perbedaan serius” antara kedua pihak.
Proposal Iran yang terdiri dari 10 poin menuntut diakhirinya perang secara permanen, pengakuan kendali atas Selat Hormuz, serta penghentian serangan terhadap sekutu regionalnya, termasuk Hizbullah di Lebanon. Di sisi lain, proposal AS yang berisi 15 poin menekankan pembatasan program nuklir Iran dan pembukaan kembali selat secara penuh.
Baca juga : Surat Mundur Kosong yang Mematikan: Modus Licik Bupati Tulungagung dalam Jerat Pemerasan KPK
Di Lebanon, situasi semakin rumit. Kementerian Kesehatan setempat melaporkan korban tewas akibat serangan Israel terhadap Hizbullah telah melampaui 2.000 orang. Israel terus melanjutkan operasi militernya, dengan menyatakan tidak ada gencatan senjata di front tersebut. Perundingan antara Israel dan Lebanon dijadwalkan dimulai Selasa di Washington, meski ribuan warga Lebanon turun ke jalan memprotes rencana tersebut. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menunda kunjungannya ke Washington karena situasi internal yang sensitif.
Warga Tehran yang diwawancarai menyampaikan campuran rasa skeptis dan harapan setelah berminggu-minggu mengalami serangan udara yang menyebabkan kehancuran luas di negara berpenduduk sekitar 93 juta jiwa. “Kedamaian saja tidak cukup. Kami telah menderita sangat parah dengan biaya yang sangat besar,” kata Amir Razzai Far, warga berusia 62 tahun.

Di tengah situasi ini, Paus Leo XIV menyampaikan kecaman paling kerasnya terhadap “khayalan kekuasaan mutlak” yang mendorong konflik tersebut. Sementara itu, pejabat dari China, Mesir, Arab Saudi, dan Qatar turut hadir di Islamabad untuk mendukung proses secara tidak langsung, menunjukkan betapa tinggi taruhannya bagi stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Analis geopolitik menilai bahwa keberhasilan perundingan ini tidak hanya bergantung pada kesepakatan mengenai Selat Hormuz, melainkan juga kemampuan kedua pihak mengatasi ketidakpercayaan mendalam yang telah terakumulasi selama puluhan tahun. Dengan pengalaman diplomatik yang terbatas dari pihak AS dan retorika keras dari pihak Iran, proses ini masih penuh tantangan. Namun, kehadiran mediator Pakistan dan dukungan aktor regional membuka peluang kecil bagi terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan.
Perundingan masih berlangsung, dan dunia terus menyaksikan apakah diplomasi bersejarah ini mampu mengakhiri konflik yang telah mengguncang fondasi keamanan energi global dan kemanusiaan di Timur Tengah.
Pewarta : Setiawan Wibisono

