RI News. Beirut – Lebanon kembali dilanda duka mendalam setelah serangan udara Israel yang paling mematikan sejak fase baru konflik dengan Hizbullah pecah. Korban tewas pada Rabu (8 April 2026) melampaui 250 orang, dengan ratusan lainnya luka-luka, sementara jenazah terus ditemukan di bawah reruntuhan bangunan. Ironisnya, hanya beberapa jam setelah serangan besar-besaran itu, Israel mengumumkan kesiapan memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon untuk pertama kalinya dalam sejarah kedua negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan tanpa peringatan tersebut menewaskan sedikitnya 254 warga sipil dan melukai lebih dari 1.165 orang dalam waktu singkat. Banyak korban berjatuhan di kawasan pemukiman padat dan distrik komersial di Beirut serta wilayah selatan negara itu, tepat pada jam sibuk. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut aksi tersebut sebagai “tindakan barbar” yang melanggar prinsip kemanusiaan dasar.
Militer Israel menyatakan bahwa operasi tersebut menargetkan lebih dari 100 lokasi yang diduga milik Hizbullah. Namun, saksi mata dan pejabat kesehatan setempat melaporkan bahwa beberapa rudal menghantam area sipil, termasuk gedung apartemen dan pasar, sehingga menimbulkan korban jiwa massal di kalangan penduduk biasa. Total korban tewas sejak konflik memanas kembali pada awal Maret 2026 kini mendekati 1.800 orang, dengan hampir 6.000 lainnya mengalami luka-luka.

Di tengah suasana duka yang masih menyelimuti ibu kota, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan instruksi kepada kabinetnya untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon. Fokus utama pembicaraan, menurut Netanyahu, adalah pelucutan senjata Hizbullah dan upaya membangun “hubungan damai berkelanjutan” antara kedua negara. Pembicaraan diperkirakan akan dimulai minggu depan di Washington, dengan keterlibatan Duta Besar AS untuk Lebanon dan Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat.
Langkah Israel ini muncul di saat yang sangat sensitif. Lebanon sendiri telah berulang kali mengusulkan dialog untuk mengakhiri permusuhan, sementara Hizbullah belum memberikan respons resmi. Seorang pejabat diplomatik Lebanon mengungkapkan bahwa Presiden Joseph Aoun mengharapkan adanya gencatan senjata sementara selama proses negosiasi berlangsung, selaras dengan upaya mediasi Pakistan antara Amerika Serikat dan Iran.
Analis politik melihat pengumuman ini sebagai sinyal ambivalen dari Israel: di satu sisi melanjutkan tekanan militer, di sisi lain membuka jalur diplomatik. Hal ini terjadi hanya beberapa jam setelah Israel mengklaim telah membunuh seorang ajudan sekaligus keponakan pemimpin Hizbullah Naim Kassem. Sementara itu, Iran melalui Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan bahwa serangan lanjutan terhadap Lebanon akan memicu “respons kuat” dan berpotensi mengganggu gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat.
Dampak kemanusiaan dari eskalasi ini terlihat jelas di lapangan. Di Beirut, tim penyelamat bekerja tanpa henti di tengah debu dan reruntuhan. Petugas Pertahanan Sipil Lebanon berhasil menyelamatkan beberapa korban yang terjebak semalaman, termasuk seorang perempuan di kawasan Ain Mreisseh dan seorang pria di pinggiran selatan ibu kota. Namun, banyak keluarga masih mencari kerabat mereka yang hilang. Seorang warga Suriah bernama Mohammad Chehab kehilangan enam anggota keluarganya dalam satu serangan, sementara Abdul Rahman Mohammad kehilangan lima kerabat di kawasan Hay al-Sellom.
Rumah sakit di Beirut kewalahan menangani korban. Dokter melaporkan puluhan pasien dengan luka parah yang memerlukan perawatan intensif. “Ini bukan hanya luka fisik, tapi juga kehancuran psikologis bagi seluruh masyarakat,” ujar salah seorang dokter di rumah sakit setempat.
Lebih dari satu juta warga Lebanon telah mengungsi akibat konflik ini, sebagian besar dari wilayah selatan dan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai Dahiyeh. Pemerintah Lebanon berencana mendemiliterisasi ibu kota dan meningkatkan patroli keamanan, sebuah langkah yang mencerminkan upaya lama untuk mengurangi pengaruh militer Hizbullah di dalam negeri. Isu pelucutan senjata kelompok tersebut memang telah lama menjadi sumber perpecahan internal di Lebanon.

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan akan segera mengajukan keluhan resmi ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hukum humaniter. Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance disebut telah meminta Israel untuk meredam serangan agar proses negosiasi dengan Iran tidak terganggu.
Konflik yang berkepanjangan ini tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga memperdalam trauma kolektif masyarakat Lebanon yang telah lama terjebak dalam dinamika regional yang rumit. Pembicaraan yang akan datang di Washington bisa menjadi titik balik bersejarah — atau sekadar jeda sementara di tengah siklus kekerasan yang belum kunjung usai.
Pewarta : Setiawan Wibisono

