RI News. Wonogiri, Minggu 1 November 2026 – Pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak 2026 di Kabupaten Wonogiri diwarnai fenomena yang jarang terlihat dalam kontestasi politik tingkat desa. Sejumlah bakal calon kepala desa (cakades) yang mendaftar ternyata terikat hubungan keluarga, mulai dari pasangan suami-istri, ayah dan anak, hingga paman dan keponakan. Kontestasi yang semestinya menjadi arena adu gagasan antarwarga kini turut menghadirkan persaingan di antara orang-orang yang berasal dari satu rumah atau satu garis kekerabatan.
Pilkades serentak tahun ini digelar di 50 desa di Kabupaten Wonogiri. Berdasarkan informasi yang dihimpun, persaingan antarkeluarga ditemukan di sejumlah wilayah, yakni Kecamatan Girimarto, Slogohimo, Jatiroto, Jatipurno, dan Wonogiri. Meski demikian, tahapan Pilkades masih berada pada penelitian berkas bakal calon, sehingga para pendaftar belum seluruhnya ditetapkan sebagai calon kepala desa. Di antara para pendaftar tersebut terdapat pasangan suami-istri, saudara, bahkan anak dari kepala desa petahana.
Di Kecamatan Girimarto, fenomena ini muncul di dua desa, yaitu Semagar dan Bubakan. Camat Girimarto, Dwi Estiningsih, menyampaikan bahwa tiga bakal calon telah mendaftar di Desa Semagar, yakni Tiyo yang berstatus petahana, istrinya bernama Ratmi, serta Mohamat Singgih Hari Sanjaya. “Iya, ada dua desa yang bakal cakadesnya punya hubungan keluarga,” ujar Dwi pada Selasa (20/10/2026).

Pola serupa terjadi di Desa Bubakan. Kepala desa petahana, Maryanto, kembali mendaftar, sementara istrinya, Sri Daryanti, juga mengajukan diri sebagai bakal calon. Menurut Dwi, Girimarto memiliki tiga desa yang menggelar Pilkades tahun ini. Desa ketiga, Jatirejo, diikuti seluruhnya oleh bakal calon pendatang baru. Pihak kecamatan memantau proses penelitian berkas melalui tim pengendali yang telah dibentuk. “Berkasnya nanti diteliti, ini kan masih bakal calon. Nanti juga diumumkan. Ada juga tahapan penetapan calon,” katanya.
Hubungan kekerabatan antarbakal calon juga ditemukan di Kecamatan Slogohimo, tepatnya di Desa Watusomo dan Desa Sedayu. Camat Slogohimo, Agus Pramono, menjelaskan bahwa di Watusomo, Sumarno dan Ariani merupakan ayah dan anak. Adapun di Sedayu, Jumari dan Warsini memiliki hubungan sebagai paman dan keponakan. Slogohimo sendiri memiliki lima desa penyelenggara Pilkades serentak 2026. Selain Watusomo dan Sedayu, tiga desa lainnya adalah Slogohimo, Soco, dan Padarangin. Pemerintah kecamatan setempat turut membentuk tim pengendali guna memantau tahapan pemilihan.
Di Kecamatan Wonogiri, fenomena serupa tampak di Desa Sendang. Kepala Desa Sendang, Sukamto, kembali mencalonkan diri dan berpotensi berhadapan dengan anaknya sendiri, Siska Queentasari, apabila keduanya ditetapkan sebagai calon.
Persaingan ketat antarpasangan juga mewarnai Desa Mojopuro, Kecamatan Jatiroto, ketika petahana Kasmo bersaing dengan istrinya, Winarsi. Situasi serupa terjadi di Desa Kembang, Kecamatan Jatipurno, saat petahana Sularno akan berhadapan dengan istrinya sendiri.
Temuan di berbagai desa tersebut menunjukkan bahwa pendaftaran bakal calon kepala desa dalam Pilkades serentak Wonogiri 2026 tidak hanya diwarnai kompetisi antarwarga, tetapi juga melibatkan orang-orang yang masih memiliki ikatan keluarga. Dari sudut pandang akademis, gejala ini dapat dibaca sebagai cerminan dinamika politik lokal yang kerap bertumpu pada figur dan jejaring kekerabatan. Pilihan keluarga untuk sama-sama maju juga menimbulkan pertanyaan tentang pola regenerasi kepemimpinan dan keterbukaan ruang partisipasi di tingkat desa. Meski begitu, seluruh proses masih berjalan dan belum ada penetapan resmi.
Penetapan calon kepala desa akan dilakukan setelah tahapan penelitian berkas dan pengumuman sesuai jadwal yang berlaku.
Pewarta: Nandar Suyadi
Tagline: #PilkadesWonogiri2026, #PilkadesSerentak, #CakadesPetahana, #PolitikKekerabatan, #DemokrasiDesa, #KabupatenWonogiri, #JawaTengah, #KepalaDesa,

