RI News. Denpasar – PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali berhasil mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp25,29 triliun pada triwulan pertama tahun 2026. Angka ini tumbuh 8,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp23,3 triliun, menandakan akselerasi intermediasi yang semakin kuat di tengah dinamika ekonomi daerah.
Direktur Utama BPD Bali, I Nyoman Sudharma, menyatakan bahwa pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat fundamental bisnis serta sinergi terintegrasi di seluruh lini operasional. “Kami terus melakukan upaya peningkatan fundamental bisnis, sinergi yang terintegrasi di seluruh lini bisnis untuk mendorong akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya di Denpasar, Sabtu (11/4/2026).
Penyaluran kredit bank yang mayoritas dimiliki pemerintah daerah Bali ini masih didominasi oleh segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang menyumbang 52,09 persen dari total portofolio kredit. Sektor ini menjadi prioritas strategis karena dianggap sebagai pilar utama perekonomian Bali yang berbasis pariwisata dan kerajinan.

Dalam mendukung UMKM, BPD Bali telah merealisasikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp550,9 miliar dan Kredit Program Perumahan (KPP) sebesar Rp78,41 miliar hingga akhir Maret 2026. Selain itu, program pendampingan debitur naik kelas melalui produk Kredit Usaha untuk Sejahtera, Unggul, dan Maju (Kusuma) mencatat volume Rp1,27 triliun. Program ini dinilai efektif membantu pelaku usaha kecil meningkatkan skala bisnis mereka secara bertahap.
Kualitas aset bank tetap terjaga baik, tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang berada di level rendah 0,84 persen. Rendahnya NPL ini menunjukkan penerapan prinsip kehati-hatian dan penguatan manajemen risiko yang konsisten dalam proses penyaluran kredit.
Pertumbuhan kredit tersebut sejalan dengan ekspansi aset bank yang meningkat 8,23 persen menjadi Rp42,71 triliun. Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp35,46 triliun atau naik 5,36 persen secara tahunan. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 71,32 persen, mencerminkan kemampuan intermediasi yang seimbang antara penghimpunan dana dan penyaluran kredit.
Baca juga : Stabilitas Nasional Terjaga: Pemerintah Prabowo Pertahankan Harga BBM Subsidi di Tengah Gejolak Global
Dengan kinerja positif di triwulan pertama ini, BPD Bali semakin optimistis dapat naik kelas ke kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) II, dengan modal inti di atas Rp6 triliun pada akhir tahun 2026. Saat ini, modal inti bank telah didukung oleh setoran modal dari pemegang saham sebesar Rp746 miliar serta kontribusi kinerja keuangan yang solid.
Di sisi inovasi digital, BPD Bali sedang mempersiapkan implementasi sistem pembayaran QRIS lintas negara antara Indonesia dan Korea Selatan. Langkah ini melanjutkan keberhasilan sebelumnya di Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang, yang diharapkan semakin memperluas akses transaksi internasional bagi nasabah, khususnya pelaku usaha pariwisata dan ekspor Bali.
Analis perbankan daerah menilai, fokus BPD Bali pada UMKM dan pengembangan digital payment cross-border menjadi strategi yang tepat di tengah pemulihan ekonomi pasca-pandemi serta peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara. Ke depan, keberhasilan bank dalam menjaga kualitas aset sekaligus memperluas inklusi keuangan akan menjadi kunci utama menuju target naik kelas yang lebih kompetitif di industri perbankan nasional.
Pewarta : Vie

