RI News. Payakumbuh, 18 Maret 2026 – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, sejak Senin malam hingga Selasa pagi (17 Maret 2026) menyebabkan banjir melanda kawasan Batang Mangkisi dan sekitarnya. Air sungai meluap deras, merendam ribuan hektare lahan pertanian yang sebagian besar ditanami padi siap panen.
Banjir tersebut tidak hanya menggenangi sawah dan ladang, tetapi juga mengancam mata pencaharian ratusan petani setempat. Kerugian materi diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah per petani, dengan tanaman padi yang telah dirawat berbulan-bulan akhirnya tersapu arus banjir. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di wilayah perbatasan dengan Kota Payakumbuh, sehingga dampaknya dirasakan luas bagi ketahanan pangan lokal.

Salah seorang petani terdampak, Bapak Madi (45), warga sekitar Batang Mangkisi, mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam. “Padi ini kami tanam dengan sepenuh hati, menghitung hari menuju panen. Tiba-tiba banjir datang, semuanya habis. Padahal Lebaran tinggal menghitung hari, harapan untuk kebutuhan keluarga dan hari raya pun ikut sirna,” ujarnya dengan nada pilu saat ditemui di lokasi.
Menurut pengamatan warga, debit air Sungai Batang Mangkisi meningkat drastis akibat curah hujan tinggi di hulu, ditambah drainase alami yang tersumbat material longsor kecil di beberapa titik. Beberapa ruas jalan penghubung antar nagari juga sempat terputus sementara, meski akses utama sudah kembali normal pagi ini.
Baca juga : Sumut Siap Sambut Bintang Muda ASEAN: Bobby Nasution Ajak Masyarakat Dukung Piala AFF U-19 2026
Petani setempat berharap pemerintah daerah segera memberikan bantuan pemulihan, seperti bibit padi pengganti dan stimulus ekonomi pasca-bencana. Sementara itu, sejumlah warga mulai membersihkan sisa lumpur di lahan pertanian mereka, meski prospek panen musim ini telah hilang.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat di wilayah rawan hidrometeorologi seperti Lareh Sago Halaban untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Semoga para petani korban banjir, termasuk Bapak Madi dan keluarganya, diberi kekuatan serta kesabaran, dan rezeki bagi kita semua dilipatgandakan di tengah ujian ini.
Pewarta: Jum Aini

