RI News. Cape Canaveral, Fla. 4 April 2026 – Empat astronot berhasil meluncur menuju Bulan dalam misi Artemis II, menandai kembalinya manusia ke luar orbit Bumi untuk pertama kalinya sejak tahun 1972. Peluncuran ini menjadi tonggak penting bagi program Artemis NASA yang bertujuan membangun kehadiran manusia secara permanen di Bulan sebagai batu loncatan menuju Mars.
Roket Space Launch System (SLS) setinggi 32 lantai lepas landas dari Launch Complex 39B di Kennedy Space Center, Florida, pada 1 April 2026 pukul 18.35 waktu setempat. Di dalam kapsul Orion bernama Integrity berada Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, Mission Specialist Christina Koch, serta astronot Badan Antariksa Kanada (CSA) Jeremy Hansen. Kru ini tercatat sebagai yang paling beragam dalam sejarah penerbangan ke Bulan: pertama kalinya melibatkan seorang wanita, seorang pria berkulit hitam, dan seorang warga negara non-Amerika Serikat.
Sekitar 25 jam setelah peluncuran, kapsul Orion berhasil melakukan pembakaran mesin utama (translunar injection burn) yang membawa mereka keluar dari orbit Bumi menuju jalur menuju Bulan. Saat ini, pada hari ketiga misi, kru berada lebih dari 160.000 kilometer dari Bumi dan terus melaju dengan lancar menuju flyby Bulan yang dijadwalkan pada 6 April.

Misi berjangka 10 hari ini merupakan uji coba berawak pertama bagi sistem SLS dan kapsul Orion. Para astronot akan melewati Bulan pada jarak sekitar 6.400 kilometer di luar permukaannya sebelum berbalik arah dan kembali ke Bumi untuk mendarat di Samudra Pasifik. Selama perjalanan, mereka akan menguji sistem pendukung kehidupan, melakukan manuver manual, serta mengambil foto dan data ilmiah dari sisi jauh Bulan yang belum pernah dilihat langsung oleh mata manusia.
Berbeda dengan misi Apollo yang lebih menekankan pencapaian cepat, Artemis II dirancang sebagai fondasi bagi eksplorasi jangka panjang. Program ini bertujuan membangun pangkalan Bulan yang berkelanjutan dengan bantuan rover robotik dan teknologi canggih, sekaligus mempersiapkan perjalanan manusia ke Mars. NASA menekankan bahwa Bulan bukan hanya tujuan, melainkan laboratorium uji coba untuk teknologi dan kehidupan di luar angkasa yang lebih jauh.
“Jalan menuju Mars melewati Bulan,” ujar Christina Koch dalam pernyataan sebelum peluncuran. Sementara itu, Victor Glover menambahkan bahwa misi ini bukan sekadar sejarah kelompok tertentu, melainkan “kisah umat manusia secara keseluruhan.”
Baca juga : Fosil Kuno di Yunnan Ungkap Transisi Rahasia: Kehidupan Hewan Kompleks Lahir Jauh Lebih Awal dari Dugaan
Meski peluncuran berjalan sukses, tim NASA tetap menghadapi tantangan teknis, termasuk masalah kecil pada sistem toilet kapsul yang langsung ditangani dengan prosedur cadangan. Manajemen misi menilai risiko secara hati-hati, terutama karena ini adalah penerbangan berawak pertama setelah Artemis I yang tanpa awak pada 2022.
Keberhasilan Artemis II akan menjadi penentu laju program selanjutnya. NASA telah mempercepat jadwal sehingga pendaratan astronot di dekat kutub selatan Bulan ditargetkan pada 2028, lebih cepat dari rencana awal. Langkah ini juga diharapkan memperkuat posisi Amerika Serikat dalam eksplorasi luar angkasa di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Dengan setengah populasi dunia saat ini tidak mengalami era Apollo, Artemis II menghadirkan “Apollo” baru bagi generasi muda. Misi ini tidak hanya menguji teknologi, tetapi juga membawa harapan dan mimpi kolektif umat manusia untuk menjelajahi batas-batas baru tata surya.
Para astronot saat ini dalam kondisi baik dan semangat tinggi, terus mengirimkan gambar spektakuler Bumi dari kejauhan sambil mempersiapkan momen bersejarah saat mereka melintas dekat Bulan.
Misi ini diharapkan membuka babak baru di mana Bulan bukan lagi hanya objek langit yang jauh, melainkan sebuah destinasi yang dapat dijangkau dan dimanfaatkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan serta kelangsungan eksplorasi manusia di masa depan.
Pewarta : Anjar Bramantyo

