RI News. Teheran – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Iran mengancam akan menyerang seluruh instalasi energi di kawasan jika pembangkit listrik dan infrastruktur vital negaranya diserang, dengan dampak jangka panjang yang bisa memicu lonjakan harga minyak secara berkepanjangan.
“Seketika setelah pembangkit dan infrastruktur listrik negara kami diserang, semua infrastruktur vital di seantero kawasan, termasuk infrastruktur energi dan minyak, akan dianggap sebagai sasaran tembak yang sah,” tegas Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, Ahad. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons langsung terhadap ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran mulai dari yang terbesar, jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Ghalibaf menegaskan bahwa serangan balasan tersebut, jika benar-benar terjadi, akan “menghancurleburkan” infrastruktur listrik di seluruh kawasan dan menyebabkan “harga minyak melonjak untuk waktu yang lama”. Ancaman ini bukan sekadar retorika, melainkan sinyal eskalasi yang bisa merembet ke berbagai negara tetangga, termasuk fasilitas produksi dan distribusi minyak yang menjadi tulang punggung ekonomi regional.
Hingga kini, Iran terus melanjutkan serangan terhadap target-target militer Amerika Serikat dan Israel sebagai balasan atas operasi militer gabungan kedua negara tersebut pada 28 Februari lalu. Operasi tersebut tidak hanya menghancurkan berbagai fasilitas strategis, tetapi juga menimbulkan korban jiwa yang tragis. Di hari pertama serangan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur, sementara ratusan siswi sekolah dasar di Iran selatan tewas setelah sekolah mereka dihantam rudal.
Analis geopolitik memperingatkan bahwa ancaman Iran ini bisa menjadi “bom waktu” bagi pasar energi global. Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia, sudah berada di ambang penutupan total. Jika infrastruktur energi kawasan benar-benar menjadi sasaran, pasokan minyak mentah bisa terganggu secara masif, mendorong harga komoditas tersebut ke level yang belum pernah tercatat dalam beberapa dekade terakhir.
Situasi ini semakin rumit karena Iran menunjukkan sikap tak kenal kompromi. Dengan infrastruktur energi yang tersebar luas di Teluk Persia hingga Laut Merah, risiko domino effect terhadap negara-negara penghasil minyak lainnya semakin nyata. Para pengamat ekonomi internasional kini memantau ketat setiap perkembangan, karena dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, melainkan juga di pasar saham global dan inflasi energi di berbagai benua.
Konflik ini menandai babak paling berbahaya dalam ketegangan Iran-Amerika Serikat-Israel dalam beberapa tahun terakhir. Sementara dunia menanti langkah diplomasi yang belum terlihat jelas, ancaman balasan Iran telah menjadikan energi sebagai senjata utama dalam perseteruan ini—sebuah strategi yang berpotensi mengubah peta ekonomi dunia untuk waktu yang tidak sebentar.
Pewarta : Setiawan Wibisono

