RI News. Brasília, 1 November 2026 – Kekalahan Flávio Bolsonaro dalam pemilihan presiden Brasil tidak hanya memicu perdebatan politik, tetapi juga melahirkan gelombang kreasi humor digital yang menyebar luas. Kepergiannya ke Amerika Serikat, tak lama setelah kandidat sayap kanan itu dikalahkan petahana Luiz Inácio Lula da Silva, menjadi bahan utama olok-olok warganet. Ratusan ribu orang menyukai dan membagikan ulang karya-karya tersebut di berbagai ruang digital.
Peran ruang digital dalam pemilu kali ini bukan sekadar pelengkap. Mobilisasi kubu kiri di jaringan daring yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya dinilai menjadi faktor penting dalam kemenangan Lula. Di sisi lain, Flávio, yang sedang diselidiki atas dugaan pencucian uang dan korupsi, sempat menyatakan tidak berniat meninggalkan Brasil. Namun, tak lama kemudian ia justru berangkat ke luar negeri. Kontradiksi inilah yang disambar para pembuat meme.
Carolina Terra, dosen komunikasi dan seni di Universitas São Paulo, menilai respons ini berakar pada kebiasaan budaya. Menurutnya, masyarakat Brasil terbiasa menghadapi isu serius dengan kelenturan, ironi, dan kejenakaan. Hal yang dianggap sangat penting, baik bersifat politik maupun tidak, cenderung diubah menjadi bahan yang mudah menyebar.

Pertanyaan “Di mana Flávio?” pun berseliweran. Putra sulung mantan Presiden Jair Bolsonaro itu digambarkan sebagai Waldo, tokoh buku teka-teki anak-anak yang harus dicari di tengah keramaian. Ada pula karya berjudul “Kostum apa yang akan kamu pakai untuk kabur?”, yang menampilkan Flávio dalam beragam rupa, antara lain sebagai penganut Rastafari, Mario, mantan pesepak bola Ronaldo, dan John Lennon. Karya lain menampilkannya sebagai kapten maskapai fiktif “Fly 22 Airlines”. Nama itu memelesetkan nomor urut yang dicoblos para pemilihnya di mesin pemungutan suara elektronik.
Bahan humor bertambah setelah Flávio, yang berusia 45 tahun dan dikenal dekat dengan Donald Trump, tiba di Miami pada Rabu. Ia menyebarkan surat yang menyatakan dirinya “presiden terpilih Brasil yang sebenarnya”, sebutan yang kemudian dilunakkan menjadi “pemimpin”. Ia juga menyebut pemilu berlangsung curang tanpa menyertakan bukti. Dalam surat itu, ia menyejajarkan diri dengan sejumlah tokoh sejarah, termasuk Charles de Gaulle, yang memimpin perlawanan Prancis dari London saat Perang Dunia II.
Dokumen tersebut memuat kejanggalan yang segera disorot. Lambangnya menyebut “Amerika Serikat Brasil”, padahal nama resmi negara itu sejak 1967 adalah Republik Federasi Brasil. Nama Brasil juga ditulis dengan huruf “z” menurut ejaan Inggris, bukan “Brasil” dengan “s” sesuai bahasa Portugis. Dari sini lahir undangan palsu ke “pelantikan” tiruan, lengkap dengan tanda tangan tokoh kartun Goofy dan latar Disneyland. Slogan “Tuhan, tanah air, dan keluarga” turut dipelesetkan menjadi “Selamat tinggal, tanah air, dan keluarga”.
Baca juga : G20 Atlanta Berakhir Tanpa Komunike: Diplomasi Dua Hari Terbentur Tembok Perang dan Rivalitas
Sebagian karya memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memodifikasi poster film populer. Dalam versi “Catch Me If You Can”, Leonardo DiCaprio digantikan Flávio, sedangkan Tom Hanks digantikan Hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes. Hakim itulah yang pada Minggu malam menerbitkan perintah pembatalan paspor Flávio. Dalam versi “Home Alone”, Flávio dan adiknya, Eduardo, yang juga bermukim di Amerika Serikat, tampil sebagai pencuri di latar belakang. Sementara itu, Jair Bolsonaro digambarkan terkejut di bagian depan.
Ada pula meme yang merujuk pada “Dark Horse”, film biografi sekaligus propaganda tentang Jair Bolsonaro. Flávio diselidiki atas dugaan korupsi, pencucian uang, dan penggelapan pajak, karena disebut menerima jutaan dolar dari seorang bankir yang tersandung masalah hukum untuk membiayai film itu. Poster “Dark Horse 2” rekaan menampilkan Flávio menunggang kuda berselempang presiden menuju bandara, dengan teks “Buronannya berbeda”. Kalimat itu menyindir kepergian sang ayah ke Florida setelah kalah pada pemilu 2022 dan menolak mengakui hasilnya. Sang ayah kemudian divonis 27 tahun penjara karena upaya kudeta.

Menurut Viktor Chagas, dosen Universitas Federal Fluminense yang mengoordinasi kelompok riset Colab untuk analisis meme politik, produksi humor selama kampanye tahun ini relatif rendah. Penyebabnya, menjelang putaran pertama tidak ada debat yang mempertemukan dua kandidat utama, sehingga bahan olok-olok minim. Dua debat pada putaran kedua memang menambah jumlah meme, tetapi tiga pekan terakhir lebih banyak diwarnai ketegangan politik yang tinggi.
Chagas menilai meme tentang kepergian Flávio ke Amerika Serikat memiliki unsur katarsis bagi pendukung Lula. Setelah ketegangan panjang, mereka merasa dapat tertawa bersama karena arah politik negara dianggap kembali ke jalurnya.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline: #PolitikBrasil, #MemePolitik, #LulaDaSilva, #FlavioBolsonaro, #PemiluBrasil, #HumorPolitik, #KecerdasanBuatan, #DemokrasiDigital,
