RI News, Gunungkidul, DIY, Rabu (21/10/2026) – Suasana khidmat dan sarat nuansa mistis kembali menyelimuti Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Senin (19/10/2026) malam hingga Selasa (20/10/2026) dinihari. Masyarakat setempat kembali menggelar upacara adat tahunan Buka Cupu Kyai Panjala, tradisi turun-temurun yang dilaksanakan setiap malam Selasa Kliwon menjelang musim tanam.
Dari kacamata kajian budaya, Buka Cupu Kyai Panjala tidak dapat dipandang sebagai seremoni biasa. Ritual ini berfungsi sebagai momentum kolektif masyarakat agraris untuk membaca tanda-tanda alam dan menafsirkan gambaran masa depan melalui lembaran kain mori yang membungkus peti pusaka. Karena itu, tradisi ini selalu dinantikan, tidak hanya oleh warga setempat, tetapi juga oleh para peziarah dari berbagai daerah.
Pusaka yang menjadi pusat ritual disimpan dalam sebuah kotak kayu yang terbungkus ratusan hingga ribuan lapis kain mori putih. Di dalamnya terdapat tiga cupu, yakni wadah kecil menyerupai cawan atau guci, yang diwariskan lintas generasi. Ketiganya memiliki nama dan ukuran berbeda. Semar Tinandhu merupakan cupu terbesar dan menempati posisi utama. Palang Kinantang berukuran sedang, sedangkan Kenthiwiri adalah yang terkecil.

Pelestarian ketiga pusaka tersebut berada di tangan juru kunci dan trah keturunan Kyai Panjala yang menjaganya secara ketat. Pola pewarisan berbasis garis keturunan ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut bertahan melalui mekanisme sosial yang terstruktur dan disepakati bersama.
Inti prosesi terletak pada pembukaan kain mori. Juru kunci bersama para ahli waris trah membuka lembaran kain secara perlahan, satu per satu, sambil mengamati setiap permukaannya dengan saksama. Bercak, noda, lipatan, hingga bayangan menyerupai gambar yang muncul pada kain kemudian diumumkan langsung kepada khalayak yang hadir.
Sebagian masyarakat meyakini simbol-simbol itu sebagai petunjuk gambaran kehidupan setahun ke depan. Cakupan tafsirnya luas, mulai dari kondisi pertanian dan iklim, prospek ekonomi, hingga situasi politik nasional. Dalam perspektif antropologi, praktik semacam ini lazim dipahami sebagai cara komunitas mengelola ketidakpastian dan membangun harapan bersama, terlepas dari perbedaan pandangan warga terhadap keabsahan ramalan itu sendiri.
Bagi warga setempat, menanti simbol dari Cupu Kyai Panjala bukan semata soal percaya pada prediksi. Tradisi ini mengandung nilai spiritual dan sosial yang mendalam. Secara spiritual, ritual ini menjadi wujud doa dan syukur, yakni permohonan keselamatan, kesuburan tanah, dan keberkahan panen kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara sosial, upacara ini menjadi ruang berkumpul yang mempererat silaturahmi antarwarga dan para peziarah. Secara kultural, ritual ini turut menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Hingga kini, Buka Cupu Kyai Panjala tetap menjadi cerminan keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual yang terus dirawat di tanah Handayani.
Pewarta: Lee anno
Tagline: #BukaCupuKyaiPanjala, #Gunungkidul, #Girisekar, #TradisiJawa, #KearifanLokal, #BudayaYogyakarta, #RitualAdat, #WarisanLeluhur,
