RI News. Wonogiri, 8 Oktober 2026 – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan digital dan pelestarian budaya yang semakin menipis, satu pohon jati legendaris di Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri kini berdiri tegak sebagai saksi bisu sejarah lokal yang jarang terungkap. Pohon jati bernama Ki Ageng Sentono, yang tumbuh di Kampung Sentono sejak puluhan tahun lalu, kini menjadi simbol sejarah lokal warga yang masih dihargai hingga tahun 2026.
Segerombolan kayu jati besar yang tumbuh di tanah Kampung Sentono dulu menjadi tempat ritual kala itu. Dari sejumlah pohon jati raksasa yang usianya mencapai ratusan tahun, satu pohon yang tergeletak karena longsor sungai kecil tidak ada satupun warga yang berani memotongnya. Bahkan setelah bertahun-tahun tergeletak, pohon tersebut tetap dianggap keramat dan suci.
Pada tahun 1966, ketika Bupati ke-8 Wonogiri, RM. Ng. Boto Pranoto, membutuhkan material kayu jati untuk kerangka rumah utama belakang pendapa perkantoran Kabupaten Wonogiri, ia melalui Kepala Desa Marto Kartono meminta izin palilah pohon jati yang tumbang tersebut. Warga setempat, termasuk mantan Kepala Desa Alfa Syamsu Bahari menjabat kades setelahnya kades Marto Kartono lengser mengetahui karena pohon tersebut sudah roboh akibat tanah longsor. Proses pemotongan dilakukan secara manual dengan gergaji tenaga manusia hingga menjadi bahan bangunan yang kokoh.

Dipan Kromowiyono, perangkat desa waktu itu, dan Kartoyo, warga Dusun Jaten yang sering direkrut untuk renovasi rumah dinas Bupati Drs. Tjuk Susilo, kini sama-sama membenarkan cerita tersebut. Kartoyo mengungkapkan bahwa pada tahun 1966, Drs. Tjuk Susilo—Bupati ke-14—langsung memerintahkan bersih-bersih dan renovasi, termasuk penggunaan kayu jati Ki Ageng Sentono untuk pembangunan rumah perkantoran. Dipan Kromowiyono, yang saat itu menjabat sebagai perangkat desa Jogo Tirto, menegaskan bahwa pohon jati Sentono benar-benar diboyong ke Kabupaten Wonogiri dan menjadi kerangka rumah belakang pendapa.
Ki Ageng Sentono bukan satu-satunya punden jati di wilayah tersebut. Warga mengenal Ki Ageng Sukoboyo, Ki Ageng Donoloyo, dan Ki Ageng Mboro sebagai para punggawa keraton yang memiliki jabatan penting kala itu. Ketiga punden jati tersebut hingga kini masih berdiri kokoh. Pohon jati Sentono sendiri sempat viral di media sosial sebagai “punden Sentono” dengan cerita seribu tahun.
Kisah panjang tentang Desa Tanggulangin yang menyimpan sejarah lokal kini hampir hilang ditelan modernisasi. Nyaris tak ada lagi warga yang memelihara cagar budaya peninggalan leluhur, meskipun Ki Ageng Sentono dan kerabatnya tetap menjadi simbol sejarah yang perlu dijaga.
Pewarta: Nandar Suyadi
Tagline: #KiAgengSentono1966, #PohonJatiWonogiri, #SejarahLokalHilang, #BupatiBrotoPranoto, #RitualTanggulangin, #KeramatSentono, #CagarBudayaWonogiri, #WarisanLeluhur,
