RI News. Kupang, 13 Agustus 2026- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menilai uji coba teknologi monitoring di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu tidak hanya bertujuan menguji kemampuan teknologi, tetapi juga melihat manfaatnya dalam mendukung pengelolaan kawasan secara nyata.
“Uji coba di Laut Sawu menjadi kesempatan penting untuk melihat bagaimana solusi inovatif dapat memberikan pembelajaran dan manfaat nyata bagi pengelolaan kawasan konservasi,” kata Direktur Konservasi Ekosistem Kementerian Kelautan dan Perikanan, Firdaus Agung, dalam keterangan yang diterima di Kupang, Kamis.
Hal ini disampaikannya berkaitan dengan program dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Balai Pengelolaan Perairan (BPK) Kupang serta pemerintah NTT untuk memasang teknologi monitoring kawasan TNP Laut Sawu. Menurut dia, pengelolaan kawasan konservasi perlu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan efektivitas pemantauan, ketersediaan data, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi. Dia mengatakan penerapan inovasi teknologi juga harus disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan dan menjadi bagian dari sistem yang telah dibangun.

Melalui Global Ocean Innovation Challenge (GOIC), dua solusi teknologi mutakhir akan diuji coba di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Penerapan inovasi ini ditujukan untuk mengoptimalkan pemantauan, serta menyajikan data yang lebih akurat demi mendukung pengambilan kebijakan tata kelola kawasan. GOIC merupakan inisiatif yang dikembangkan oleh The Nature Conservancy (TNC), YKAN dan Newlab untuk mendorong pengembangan serta penerapan solusi inovatif dalam menjawab berbagai tantangan kelautan.
Di Laut Sawu, Havoc dari Amerika Serikat akan menguji Autonomous Surface Vessel (ASV), kapal nirawak yang dapat memperluas jangkauan pemantauan kawasan. Sementara itu, blueOASIS dari Portugal akan menguji stasiun pemantauan suara bawah air berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi mamalia laut dan aktivitas pemanfaatan kawasan konservasi secara lebih efektif. Teknologi dari blueOASIS akan diuji coba di Pulau Batek, Pulau Ndao, Pulau Salura, dan Pulau Sabu, sedangkan teknologi dari Havoc akan diuji coba di Pulau Sabu. Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Kupang, Imam Fauzi mengatakan bahwa teknologi akan lebih bermakna apabila dapat memperkuat sistem yang sudah dimiliki, bukan berdiri sebagai sistem yang terpisah. “Teknologi bukan mengganti sistem pengelolaan yang sudah berjalan, tetapi menjadi alat untuk memperkuatnya. Dengan wilayah laut yang luas seperti Laut Sawu, kita perlu terus mengembangkan cara-cara baru untuk meningkatkan efektivitas pemantauan dan pengawasan,” kata Imam Fauzi. Uji coba diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana teknologi dapat digunakan dalam kondisi nyata di Laut Sawu. Pembelajaran tersebut nantinya dapat menjadi bahan untuk menentukan bentuk pemanfaatan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan pengelolaan kawasan. Dengan demikian, inovasi teknologi ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem kolaborasi yang lebih besar. Data yang dihasilkan tidak berhenti pada pemantauan, tetapi diharapkan dapat memperkuat perencanaan, membantu pengambilan keputusan, dan memperkaya pengetahuan mengenai kondisi kawasan.
Baca juga: Gunung Kemukus di Sragen Diusulkan Diubah Jadi Destinasi Wisata Air yang Modern
Selain mendukung penerapan inovasi teknologi, YKAN juga terus memperkuat pengelolaan TNP Laut Sawu melalui empat strategi yang saling melengkapi, yaitu perlindungan laut, perikanan berkelanjutan, ketahanan pesisir, dan ekonomi biru. Pendekatan tersebut diwujudkan melalui berbagai program bersama pemerintah, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya. Sementara itu, Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menyampaikan bahwa pengelolaan TNP Laut Sawu harus dibangun melalui keterhubungan berbagai pendekatan. “TNP Laut Sawu memiliki nilai ekologis dan sosial yang sangat penting. Tantangan pengelolaannya kompleks dan lintas wilayah. Karena itu, berbagai pihak perlu bekerja sama, berbagi pengetahuan dan data, serta menyelaraskan dukungan. Teknologi menjadi salah satu alat yang dapat membantu menjawab tantangan tersebut,” ujarnya.
Dengan kolaborasi yang semakin kuat dan didukung oleh teknologi, pengelolaan TNP Laut Sawu diharapkan tidak hanya mampu menjaga ekosistem laut, tetapi juga memastikan Laut Sawu tetap menjadi ruang hidup yang sehat dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Pewarta: Irman Doni
Tagline: #UjiCobaTeknologiLautSawu #KolaborasiKonservasi #DataNyataPengelol,

