RI News. Manggarai Barat, 19 Juli 2026 — Di tengah derasnya arus modernisasi dan kemajuan teknologi, masyarakat Manggarai di Flores, Nusa Tenggara Timur, terus merawat tradisi leluhur yang sarat makna. Salah satu momen paling sakral adalah Tei Ela Tinu, sebuah ritual penghormatan kepada orang tua yang dilakukan ketika anak-anak telah dewasa, mandiri, dan mapan.
Tradisi ini biasanya digelar ketika orang tua memasuki usia senja. Ada dua latar belakang utama pelaksanaannya. Pertama, saat kondisi kesehatan orang tua menurun, sering kali disertai pertanda melalui mimpi atau gejala sakit yang mengkhawatirkan. Setelah ritual selesai, sebagian orang tua berpulang dalam damai beberapa hari kemudian, sementara sebagian lainnya justru mengalami pemulihan dan penambahan usia. Kedua, ketika orang tua masih sehat namun anak-anaknya telah sukses dalam karier, Tei Ela Tinu menjadi wujud syukur dan ucapan terima kasih atas perjuangan panjang membesarkan anak.
Inti dari Tei Ela Tinu adalah kebersamaan keluarga besar. Seluruh anak, dari sulung hingga bungsu, beserta cucu dan cicit, berkumpul di rumah orang tua sebagai simbol persatuan dan keharmonisan.

Dalam prosesi adat, anak-anak menyiapkan persembahan istimewa berupa pakaian adat baru, seperti topi adat khas Manggarai dan kain songket. Jamuan utama menggunakan hewan ternak leluhur, yaitu babi. Bagian-bagian terbaik seperti hati, daging paha, dan daging pundak dicincang, dimasukkan ke ruas bambu, lalu dibakar menjadi tibu atau tapa kolo. Makanan sakral ini kemudian disuapi langsung oleh anak kandung satu per satu kepada orang tua, sebagai ungkapan cinta kasih dan bakti tertinggi.
Sebelum acara inti dimulai, para tetua adat memimpin ritual memberi makan arwah leluhur dan memohon izin. Dalam kepercayaan Manggarai, arwah leluhur senantiasa menjaga keluarga siang dan malam.
Salah satu pelaksanaan Tei Ela Tinu yang penuh khidmat dan meriah berlangsung di kediaman keluarga Paru, Kompleks Bandara Komodo, Labuan Bajo. Acara ini dipersembahkan oleh Bapak Feliks Paru dan Bapak Sipri Paru untuk ayahanda mereka, Bapak Yan Paru.
Baca juga: Membangun Cinta Tanah Air dari Rumah: Semangat PKK Bambankerep di Lomba Simulasi PKBN Antar-RW
Dalam ungkapan sakralnya, Bapak Feliks mewakili seluruh anak menyampaikan rasa terima kasih mendalam: “Bapa, saya mewakili semua anakmu. Terima kasih karena Engkau telah melahirkan kami, memelihara kami dengan layak, mendidik kami hingga besar dan memiliki anak cucu. Engkau telah mewujudkan dunia kami. Dalam Tei Ela Tinu ini, kami persembahkan untuk-Mu. Kalau ada kesalahan kami, mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Kami mendoakan semoga Bapa diberi umur panjang untuk hidup bersama cucu dan cicit.”
Prosesi dipimpin oleh Bapak Mateus Angkuk selaku sesepuh yang dipercaya keluarga, dilanjutkan dengan doa misa syukur bersama sebagai wujud syukur kepada Sang Pemberi Kehidupan.
Di era digital saat ini, pelestarian tradisi seperti Tei Ela Tinu menjadi semakin relevan. Ritual ini bukan sekadar balas budi, melainkan upaya menjaga jati diri budaya Manggarai agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Pewarta: Vitalis No
Tagline: #SalamBudaya, #BudayaManggarai, #BudayaWarisanLeluhurNusantara,

