RI News. Denpasar, 11 Juli 2026 — Gubernur Bali Wayan Koster mengusulkan pengembangan Bandar Udara Letkol Wisnu di Buleleng sebagai solusi strategis untuk mengurai tekanan lalu lintas udara di Pulau Dewata tanpa mengorbankan lahan produktif dan ekosistem subak yang telah menjadi warisan budaya.
Dalam keterangan yang diterima di Denpasar, Sabtu, Koster menegaskan bahwa pengembangan Bandar Udara Letkol Wisnu difokuskan pada fungsi khusus, bukan bandara komersial massal seperti Ngurah Rai. “Kami telah merencanakan pengembangan Bandar Udara Letkol Wisnu menjadi bandara khusus untuk melayani kebutuhan khusus, seperti pendaratan darurat apabila di Ngurah Rai mengalami problem, sebagai layanan privat jet, penerbangan carter, logistik dan peralatan,” ujarnya.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, Pemerintah Provinsi Bali telah membentuk badan usaha dan berencana membebaskan lahan. Koster juga membuka pintu lebar bagi investor yang ingin bergabung. “Apabila ada yang hendak bergabung untuk investasi, Pemprov Bali sangat terbuka mengundang adanya investasi yang masuk,” katanya.

Menurut Koster, langkah ini sejalan dengan semangat menjaga keberlanjutan Bali. “Bali ini kecil kita harus mencegah lahan yang produktif agar tidak tergerus dan terancamnya pangan beserta ekosistem subak yang telah ada, hal ini juga bagian untuk mewujudkan quality tourism di Bali,” sambungnya. Ia menekankan bahwa pihaknya belum berpikir mengembangkan bandara komersial baru di wilayah tersebut.
Selain isu penerbangan, Koster juga membahas revitalisasi infrastruktur laut di Bali Utara dan Timur. Revitalisasi Pelabuhan Celukan Bawang dengan kapal Roro diharapkan dapat memecah kepadatan arus transportasi darat Denpasar-Gilimanuk, khususnya saat musim libur dan mudik. Pembangunan Pelabuhan Kusamba di Klungkung, Pelabuhan Amed di Karangasem, serta Pelabuhan Sangsit di Buleleng turut dibahas. Sementara itu, taksi laut di Kabupaten Badung direncanakan memangkas waktu tempuh Bandara Ngurah Rai menuju Canggu dari 1,5–2 jam menjadi hanya 30 menit.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan keseriusan pemerintah pusat dalam menangani masalah transportasi di Bali. “Ini adalah pengembangan bandara eksisting, harapan kita bisa diwujudkan, agar Bali Utara bisa berkembang seperti di Bali Selatan,” ucap Dudy.
Baca juga : Potensi Gas Andaman: Aceh Kejar Manfaat Onshore, Pemerintah Pusat Soroti Hitung-hitungan Ekonomi
Menteri Dudy juga menutup wacana pembangunan Bandara Bali Utara di Kubutambahan yang sempat menjadi perdebatan. “Saya akan pastikan di Letkol Wisnu, Buleleng menjadi fokus kami, karena kondisinya relatif clear dan tidak ada lagi mengenai masalah lahan, termasuk lingkungan hidup,” tegasnya. Untuk transportasi laut, Pelindo diminta merevitalisasi Pelabuhan Celukan Bawang agar dapat melayani penyeberangan dari Jangkar dan Banyuwangi. Pelabuhan Amed dan Sangsit akan ditawarkan kepada swasta, sementara Pelabuhan Kusamba terus dikembangkan sebagai pendukung industri pariwisata yang berbeda dari Bali Selatan.
Dudy berharap fasilitas taksi laut di kawasan Ngurah Rai dapat rampung pada November 2026, sehingga menjadi alternatif nyata mengatasi kemacetan di Canggu.
Pengembangan terpadu ini diharapkan tidak hanya meringankan beban Bandara I Gusti Ngurah Rai, tetapi juga mendorong pemerataan pembangunan dan pariwisata berkualitas di Bali Utara tanpa mengganggu keseimbangan ekologis dan budaya pulau.
Pewarta : Vie
Tagline: #BandaraLetkolWisnu, #PembangunanBaliUtara, #QualityTourismBali, #InfrastrukturBali, #TransportasiBerkelanjutan,

