RI News. Jakarta, 8 Juli 2026 — Jakarta menjadi saksi diplomasi produktif yang langka ketika Perdana Menteri India Narendra Modi menyelesaikan kunjungan kenegaraannya ke Indonesia dengan membawa pulang 16 dokumen kerja sama konkret setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Selasa (7/7). Lawatan yang berlangsung 6 hingga 8 Juli 2026 ini tercatat sebagai salah satu momen paling substantif dalam hubungan bilateral kedua negara sejak penandatanganan Kemitraan Strategis Komprehensif pada 2018.
Kunjungan Modi merupakan balasan atas lawatan Prabowo ke India beberapa bulan sebelumnya. Sambutan Indonesia kali ini jauh melampaui protokol biasa. Begitu pesawat kepresidenan India memasuki wilayah udara Tanah Air pada Senin sore, tiga jet F-16 dan dua Sukhoi TNI AU langsung mengawal hingga mendarat di Halim Perdanakusuma. Prabowo sendiri menyambut tamunya di bawah tangga pesawat — sebuah gestur kehormatan yang jarang diberikan kepada pemimpin negara sahabat. Keesokan harinya, upacara kenegaraan penuh di Istana Merdeka semakin mempertegas kedalaman hubungan kedua pemimpin.
Dari 16 kesepakatan yang ditandatangani, sektor pertahanan menjadi sorotan utama. Kementerian Pertahanan RI resmi meneken kontrak pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos, sistem buatan patungan India-Rusia yang telah lama menjadi incaran Indonesia. Dengan langkah ini, Indonesia menyusul Filipina dan Vietnam sebagai negara ketiga di kawasan yang mengoperasikan senjata tersebut. Kerja sama pertahanan tidak berhenti di sana; Bharat Dynamics Limited juga menandatangani kesepakatan dengan Republikorp untuk pengadaan rudal udara-ke-udara.

Prabowo dan Modi sepakat memperdalam dialog keamanan melalui India-Indonesia Security Dialogue ketiga, termasuk pengembangan teknologi pertahanan dan penanggulangan kejahatan lintas batas. Di ranah maritim, kedua negara yang sama-sama kuat sebagai kekuatan samudra ini akan memperluas kolaborasi keamanan maritim dan ekonomi biru, termasuk pengembangan pelabuhan strategis.
Bidang ekonomi turut mendapat dorongan signifikan. Kedua pemimpin mendorong percepatan pembahasan Indonesia-India Preferential Trade Agreement (II-PTA) serta peninjauan ulang ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA). Langkah paling langsung dirasakan masyarakat adalah rencana integrasi sistem pembayaran digital UPI India dengan QRIS Indonesia, yang diharapkan memperlancar transaksi lintas negara dan meningkatkan arus wisatawan.
Kerja sama energi menjadi prioritas bersama. Proyek pembangkit listrik tenaga surya, transfer teknologi, serta peningkatan kapasitas nuklir menjadi bagian penting agenda. Prabowo menekankan bahwa ketahanan energi bukan lagi pilihan melainkan keharusan di tengah gejolak global. Pembicaraan juga menyentuh pengelolaan mineral kritis dan hilirisasi, dua isu yang menjadi daya tawar penting Indonesia di rantai pasok dunia.
Baca juga : Kemeriahan Voli Putri di Atas 30 Tahun Meriahkan Puncak HUT RI ke-81 di Bambankerep
Di luar isu strategis keras, kedua negara menunjukkan komitmen pada pembangunan manusia. Modi menawarkan pengalaman India dalam program makan siang gratis untuk mendukung inisiatif serupa yang sedang dievaluasi di Indonesia. Di sektor kesehatan, keduanya menandatangani pengaturan implementasi tenaga kesehatan. Pendidikan mendapat sorotan khusus dengan dukungan Prabowo terhadap pendirian kampus Indian Institutes of Management di Indonesia serta penjajakan Indian Institutes of Technology, disertai peningkatan pertukaran mahasiswa.
Simbolisme budaya turut memperkaya kunjungan ini. Tahun 2026-2027 ditetapkan sebagai “Tahun Tagore-Dewantara” untuk memperingati 100 tahun pertemuan Rabindranath Tagore dengan Ki Hajar Dewantara. Modi juga dijadwalkan mengunjungi Candi Prambanan di Yogyakarta untuk menyaksikan rencana restorasi situs warisan dunia UNESCO tersebut. Sementara itu, BRIN dan ISRO memperpanjang kerja sama di bidang antariksa.

Secara geopolitik, kunjungan ini sulit dipisahkan dari dinamika Indo-Pasifik yang semakin tegang. Waktu penandatanganan kontrak BrahMos yang berdekatan dengan uji coba rudal China di Samudra Pasifik membawa makna tersendiri. Indonesia sebagai perhentian pertama tur Modi di kawasan ini juga menjadi sinyal kuat posisi Jakarta dalam strategi diplomasi New Delhi.
Hubungan Indonesia-India yang telah terjalin sejak 1951 kini memasuki fase baru yang lebih matang. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada implementasi cepat dari berbagai kesepakatan ini. Seperti sering diingatkan Prabowo, jumlah dokumen yang ditandatangani harus segera diwujudkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat kedua negara.
Pewarta : Albertus Parikesit
Tagline: #ModiPrabowo, #KemitraanStrategis, #BrahMosIndonesia, #DiplomasiIndoPasifik, #KerjaSamaMaritim, #TahunTagoreDewantara, #HubunganIndiaIndonesia,

