RI News. Wonogiri – Serangan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Kecamatan Slogohimo dan Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, kini telah melampaui fase sporadis. Dalam beberapa bulan terakhir, gangguan yang semula bersifat insidental berubah menjadi ekspansi luas yang mengancam siklus pertanian dan ketenangan warga di setidaknya tiga desa.
Desa Setren di Slogohimo, serta Desa Girimulyo dan Desa Kembang di Jatipurno, menjadi wilayah paling terdampak. Tanaman jagung, kacang tanah, dan palawija lainnya rusak berulang, bahkan sebelum memasuki masa panen. Petani kehilangan harapan di musim tanam pertama tahun ini.
“Musim tanam pertama petani di wilayah ini hampir gagal total. Serangan monyet datang dari berbagai sisi,” ujar Surip, warga Desa Setren, saat ditemui Minggu (21/6/2026).

Pola serangan yang tidak terpusat menunjukkan adanya tekanan habitat yang lebih besar. Kawanan monyet diduga bergerak dari kawasan hutan perbatasan lereng selatan Gunung Lawu. Perubahan musim yang menyebabkan kelangkaan pakan alami di hutan diyakini menjadi pemicu utama, memaksa satwa liar turun ke lahan pertanian dan permukiman warga.
Fenomena ini bukan sekadar gangguan sesaat, melainkan pergeseran ruang hidup satwa akibat dinamika ekosistem yang terganggu. Pemerintah desa telah melaporkan kondisi ini ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), namun hingga kini warga masih menanti penanganan yang lebih komprehensif. Sebelum meluas, gejala awal muncul di Desa Girimulyo dan Desa Setren. Ratusan monyet kini beroperasi dalam kelompok besar, menyerbu lahan secara sistematis. Suripto, warga setempat, menggambarkan ritme serangan yang nyaris tanpa jeda.
“Banyak yang gagal panen setelah tanamannya dirusak kawanan monyet. Dua sore datang, dua sore pergi lagi. Apapun dirusak,” katanya.
Di Desa Kembang, situasi semakin mengkhawatirkan. Monyet tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga masuk ke permukiman. Bardi, warga desa tersebut, menceritakan pengalaman yang menegangkan.
“Kalau yang punya rumah sedang bepergian, rumah dalam kondisi kosong, mereka masuk, menyerang makanan di sekitar rumah, bahkan genteng rumah dilempar-lempar,” ujarnya.
Abeng atau Terpiash, warga Desa Kembang lainnya, menambahkan bahwa upaya pengusiran konvensional seperti petasan, bunyi-bunyian, dan jebakan hanya memberikan efek sementara. Bahkan tindakan ekstrem seperti menembak justru memicu respons balasan yang lebih agresif.
“Misalnya ditembak, malah seperti dendam. Datang lagi dengan jumlah lebih banyak,” ungkapnya melalui telepon WhatsApp.
Petani Dusun Grenjeng melaporkan serangan hampir setiap hari dengan rombongan mencapai ratusan ekor. Mukadi (75), salah satu petani senior, mengungkapkan kekhawatirannya.
“Ada yang seukuran manusia. Sudah berani sama manusia. Jagung tidak berani tanam lagi,” katanya.
Kerugian tidak hanya bersifat materiil. Warga menghadapi tekanan psikologis yang berkepanjangan setiap kali musim tanam tiba. Di satu sisi, petani membutuhkan perlindungan atas mata pencaharian mereka. Di sisi lain, regulasi konservasi satwa liar membatasi tindakan langsung.
Tanpa intervensi terukur dan berkelanjutan dari otoritas terkait, konflik manusia-satwa liar di lereng Lawu selatan berpotensi semakin meluas, baik secara geografis maupun intensitas dampaknya.
Pewarta: Nandar Suyadi
Tagline: #SeranganMonyetWonogiri, #MonyetEkorPanjang, #KonflikManusiaSatwa, #LerengLawu, #PertanianWonogiri, #SlogohimoJatipurno, #KrisisHabitat, #PetaniJawaTengah,

