RI News. Payakumbuh – Hari Raya Idul Adha 1447 H, semangat keagamaan dan kebersamaan kembali terpancar dari Kelurahan Aur Kuning, Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh, Sumatra Barat. Sebanyak 98 peserta kurban dari warga setempat bahu-membahu menyumbangkan 13 ekor sapi dan 7 ekor kambing sebagai wujud peneladanan terhadap sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Menurut Bapak Datuak Rajo Mangkuto, Ketua Panitia Pelaksana Kurban Aur Kuning, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan manifestasi kesadaran kolektif masyarakat untuk menghidupkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. “Kurban ini akan kami bagikan secara merata kepada seluruh masyarakat lingkungan Aur Kuning, termasuk yang tidak mampu, tetangga dari lintas suku, dan warga yang berbeda keyakinan,” ujarnya.
Tradisi kurban di Indonesia, khususnya di Minangkabau, merupakan perpaduan indah antara ajaran Islam dan nilai-nilai adat yang sudah mengakar. Kurban yang diajarkan Nabi Ibrahim AS dan dicontohkan Rasulullah SAW bukan hanya ritual penyembelihan, melainkan simbol pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Di Aur Kuning, praktik ini hidup dalam bingkai gotong royong dan bajanjang naiak khas Minangkabau, di mana setiap warga merasa bertanggung jawab terhadap kesejahteraan bersama.

Secara akademis, kegiatan semacam ini memperkuat teori social capital dalam sosiologi agama. Keikutsertaan 98 kepala keluarga dalam kurban kolektif menciptakan ikatan sosial yang kuat, mengurangi jurang kesenjangan ekonomi, dan membangun rasa saling memiliki di tengah masyarakat yang heterogen.
Perayaan kurban di Aur Kuning terlihat dari pendekatan distribusi yang inklusif. Dengan membagikan daging kurban tanpa membedakan latar belakang agama dan etnis, warga Aur Kuning secara sadar menjadikan momen Idul Adha sebagai wahana pembinaan kerukunan. Hal ini sangat relevan di Indonesia yang dikenal sebagai laboratorium keragaman terbesar di dunia.
Kegiatan ini juga berfungsi sebagai pendidikan publik yang hidup. Anak-anak dan generasi muda melihat langsung bagaimana nilai pengorbanan diterjemahkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar simbol. Di tengah tantangan modern seperti individualisme dan polarisasi sosial di media, inisiatif lokal seperti ini menjadi benteng nilai-nilai kebersamaan yang otentik.
Datuak Rajo Mangkuto menambahkan harapannya yang lebih luas: “Kami berharap keindahan hari besar ini menjadi momentum positif untuk terus membina keragaman beragama di Indonesia. Kurban mengajarkan kita bahwa pengorbanan kecil yang tulus dapat melahirkan kebaikan yang besar bagi umat manusia.”
Tradisi kurban di Aur Kuning ini menjadi contoh bagaimana praktik keagamaan yang sunnah dapat menjadi kekuatan perekat sosial di tingkat akar rumput. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kontemporer, semangat seperti ini mengingatkan kembali esensi Idul Adha: bukan hanya hari raya, melainkan panggilan untuk berbagi, berkorban, dan mempererat tali persaudaraan antar sesama anak bangsa.
Pewarta : Mayang Sari

