RI News. Jambi – Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Akhmad Munir menegaskan pentingnya internalisasi Kode Etik Jurnalistik sebagai fondasi utama profesionalisme wartawan. Menurutnya, tanpa pemahaman mendalam terhadap nilai dan norma etika, jurnalis sulit menjalankan peran sebagai agen pencerahan masyarakat.
“Kode etik merupakan kompas bagi jurnalis dalam menjalankan profesi, maka harus diinternalisasi oleh seorang jurnalis,” ujar Akhmad Munir saat silaturahim dengan Wali Kota Jambi Maulana di Jambi, Selasa (19/5) malam.
Munir menambahkan bahwa ketika wartawan konsisten mematuhi kaidah jurnalistik, mereka menjadi guru masyarakat yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebaliknya, jika insan pers gagal menjaga kompetensi dan integritas, dampak buruknya akan dirasakan langsung oleh publik.

Ia membandingkan perjuangan wartawan dengan pemimpin daerah. “Bedanya hanya pada cara berjuang. Kalau kepala daerah berjuang lewat kebijakan dan keputusan, maka wartawan berjuang melalui karya jurnalisme yang berintegritas,” katanya. Keduanya, menurut Munir, memiliki visi yang sama: mencerdaskan masyarakat dan membebaskan mereka dari belenggu keterbelakangan, kebodohan, serta cara berpikir primitif.
Mantan Direktur Utama Perum LKBN ANTARA ini juga menekankan bahwa profesionalisme bukan sekadar idealisme, melainkan kunci yang membuka peluang sah dan terhormat di tengah persaingan informasi saat ini. Namun, ia tidak menutup mata terhadap realitas di lapangan.
Munir mengakui masih adanya praktik jurnalisme yang menyimpang, mulai dari ketergantungan pada imbalan hingga tindakan pemerasan yang mencoreng marwah pers. “Kami sadar ada tantangan ini. Inilah tugas besar PWI agar wartawan betul-betul menjaga marwah, martabat, dan profesionalitasnya,” tegasnya.
Baca juga : Generasi Muda sebagai Pilar Utama Reformasi Hukum Pidana Indonesia
Pernyataan ini relevan dengan dinamika media di era digital, di mana tekanan ekonomi dan kecepatan informasi sering kali menguji integritas jurnalis. Internalisasi etika menjadi benteng agar pers tetap menjadi pilar demokrasi yang kredibel.
Wali Kota Jambi Maulana menyambut baik pesan dari PWI tersebut. Ia menilai hubungan antara pemerintah daerah dan insan pers selama ini berjalan harmonis. Jurnalis dinilai berperan besar dalam menyebarkan informasi program kerja pemerintah secara cepat, akurat, dan merata kepada masyarakat.
Melalui liputan yang bertanggung jawab, masyarakat dapat langsung memahami dan merasakan manfaat pembangunan yang sedang berlangsung di Kota Jambi. Maulana juga menyatakan keterbukaan pemerintah terhadap fungsi kontrol sosial pers.

“Seringkali rekan-rekan wartawan memberikan kritik. Namun, kami melihat hal tersebut sebagai kritik yang konstruktif demi kemajuan Kota Jambi,” tuturnya.
Pertemuan silaturahim ini mencerminkan semangat kemitraan antara pers dan pemerintah daerah yang saling mendukung, di mana kritik bukan dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai masukan untuk perbaikan.
Dengan menjadikan Kode Etik Jurnalistik sebagai pedoman hidup sehari-hari, wartawan diharapkan mampu menjaga kepercayaan publik sekaligus berkontribusi nyata pada pembangunan bangsa yang lebih beradab.
Pewarta: Anjar Bramantyo

