RI News. Yogyakarta — Momentum Hari Kebangkitan Nasional (HARKITNAS) Tahun 2026 menjadi panggung krusial untuk membedah ulang ketahanan sosial di tengah derasnya arus digitalisasi. Melalui sarasehan bertajuk “Berdaya, Inklusif, dan Adaptif di Era Digital”, para pemangku kebijakan, akademisi, dan praktisi berkumpul di Gedhong Pracimasana Lantai 2, Kompleks Kepatihan, Danurejan, Kota Yogyakarta, pada Senin (18/6/2026).
Hadir mewakili Komandan Korem 072/Pamungkas, Kepala Staf Korem (Kasrem) 072/Pamungkas Kolonel Inf Teguh Wiratama, S.Sos., M.Han., menegaskan kehadiran TNI dalam mengawal stabilitas dan nasionalisme di ruang-ruang siber yang kini kian dinamis.
Kepala Diskominfo DIY, Hari Edi Tri Wahyu Nugroho, S.I.P., M.Si., dalam pembukaannya menggarisbawahi bahwa keamanan dan kenyamanan Yogyakarta tidak bisa hanya bersandar pada instrumen hukum formal, melainkan pada soliditas organik warga. Ia menempatkan lingkungan keluarga dan komunitas warga sebagai pilar paling utama dalam struktur pendidikan dan proteksi anak.

“Komitmen penuh pemerintah terhadap prinsip kesetaraan dan inklusivitas pelayanan publik, tidak ada masyarakat terlewatkan untuk pelayanan. Semua diperhatikan, siapapun itu sama,” ujar Hari Edi, menegaskan bahwa digitalisasi birokrasi di DIY dirancang tanpa diskriminasi.
Namun, di balik optimisme inklusivitas tersebut, Hari Edi memberikan catatan kritis mengenai rendahnya budaya literasi digital yang memicu kerentanan masif di berbagai lapisan usia.
“Tantangan untuk semua usia, kerentanan ini tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga orang dewasa dan lansia yang kerap terjebak polarisasi, penipuan digital, serta manipulasi informasi di media sosial.” — Hari Edi Tri Wahyu Nugroho, S.I.P., M.Si.
Pada usia emas (golden age), anak-anak menjadi kelompok paling rawan terpapar konten negatif dan kecanduan layar (screen addiction). Ketiadaan benteng filter yang kuat di tingkat domestik juga memperbesar risiko mereka menjadi korban kejahatan siber.
Sarasehan ini berkembang menjadi ruang dialektika akademis yang tajam saat para narasumber memaparkan materi dari perspektif keahlian masing-masing.
Baca juga : Menjaga Resiliensi Nasional: Makorem 072/Pamungkas Kawal Transformasi TNI AD Hadapi Krisis Global dan Iklim
Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM dan BPIP RI, Maheswara Utama bersama Hendro Muhaimin, M.A., membedah materi mengenai Kebangkitan Nasional dan Ancaman Polarisasi di Era Digital. Mereka menyoroti bagaimana algoritma media sosial sering kali menjebak pengguna dalam bilik gema (echo chamber) yang memperuncing polarisasi sosial-politik, yang jika dibiarkan dapat mengikis kohesi nasional.
Dari perspektif psikologi perkembangan, Ketua KPAID Kota Yogyakarta, Sylvi Dewajani, S.Psi., M.Sc., memaparkan formulasi Gawai Sehat dalam Tumbuh Kembang Anak. Sylvi menekankan pentingnya regulasi waktu dan pendampingan aktif orang tua agar gawai berfungsi sebagai stimulan kognitif, bukan justru menjadi pemicu degradasi mental dan sosial anak.
Sementara itu, dimensi implementatif dipaparkan oleh perwakilan KIM Ngesti Tritunggal, Dwi Nur Rahman, S.Pd., yang mengulas Pemanfaatan Media Digital untuk Menyebarkan Nilai Nasionalisme. Dwi membagikan strategi mengemas konten lokal yang edukatif dan berbasis nilai Pancasila agar mampu bersaing dengan narasi-narasi global di ruang digital.
Sarasehan HARKITNAS 2026 ini mematri satu kesimpulan penting: kebangkitan nasional di abad ke-21 tidak lagi diukur dari angkat senjata, melainkan dari sejauh mana sebuah bangsa mampu berdaya, inklusif, dan adaptif tanpa kehilangan jati diri di tengah disrupsi digital.
Pewarta: Lee anno

