RI News. Pacimantoro, Wonogiri – Di sebuah kampung kecil bernama Dayu, Kelurahan Sedayu, Kecamatan Pacimantoro, Kabupaten Wonogiri, hidup seorang praktisi pengobatan alternatif yang telah menjadi harapan bagi banyak orang yang putus asa dengan pengobatan medis konvensional. Namanya Mabh Harun Utomo Noto Projo, atau yang akrab disapa Mbah Harun.
Sudah sembilan tahun Mbah Harun menetap di kampung ini, sekitar tahun 2017-2018. Sebelumnya, ia menghabiskan waktu lama di Jakarta, di mana ia sempat “lepek” atau lelah dengan rutinitas kota besar. Kini, di pedalaman Jawa Tengah ini, ia menjalani panggilan hatinya mengobati berbagai penyakit melalui metode non-medis.
Pasien yang datang ke tempatnya beragam. Rata-rata berasal dari wilayah sekitar, tetapi tak sedikit yang datang dari luar daerah. Banyak di antara mereka mengalami kondisi yang menurut dokter sulit disembuhkan, seperti saraf kejepit, kesleo, stroke, hingga kesulitan berjalan parah. Beberapa pasien bahkan harus diangkut naik truk karena tak mampu berjalan sendiri. Namun, setelah mendapat penanganan dari Mbah Harun, banyak yang melaporkan perbaikan signifikan.

“Saya tidak memasang tarif tetap,” ujar Mbah Harun dalam wawancara khusus. “Saya sih rela seikhlasnya. Walaupun orangnya tidak punya duit, asal dia kesini tetap saya terima. Walaupun sakitnya parah ya.”
Pendekatan Mbah Harun bukan hanya terbatas pada masalah fisik. Ia juga menangani aspek supranatural, seperti melakukan ruwatan, membersihkan gangguan dari hal gaib, serta mengajarkan ilmu kebatinan kepada mereka yang tertarik mendalaminya. Kombinasi antara penanganan energi, doa, dan pengetahuan tradisional menjadi ciri khas metode yang ia gunakan.
Mbah Harun mengaku telah menggeluti dunia pengobatan alternatif ini sejak usia muda. “Pokoknya udah lima belas tahun. Kurang lima belas berarti sekitar dua puluh tujuh tahun nanti,” katanya, merujuk pada total pengalaman yang ia miliki hingga kini.
Ibu Mbah Harun berasal dari Sedayu, Kecamatan Pracimantoro juga, yang menurutnya turut membentuk perspektif dan pendekatan pengobatannya yang unik. Meski demikian, ia tetap mengakar pada kearifan lokal Jawa, terutama dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan dimensi spiritual.
Baca juga : Fragmen Iliad Homer yang Tersembunyi di Pelukan Mumi: Rahasia Daur Ulang Sastra Yunani di Tanah Firaun
Keberadaan praktisi seperti Mbah Harun mencerminkan fenomena yang masih hidup di masyarakat Indonesia: kepercayaan terhadap pengobatan alternatif yang holistik, yang tidak hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga menenangkan jiwa. Bagi pasien yang telah “ditinggalkan” diagnosis medis, tempat sederhana di kampung Dayu ini menjadi oase harapan.
Meski demikian, pengobatan alternatif seperti ini tetap menjadi pilihan pelengkap, bukan pengganti pengobatan medis profesional. Mbah Harun sendiri tidak pernah memaksa siapa pun untuk datang; ia hanya membuka pintu bagi siapa saja yang datang dengan ikhlas.
Di tengah kemajuan teknologi kedokteran modern, cerita Mbah Harun mengingatkan kita bahwa di pelosok-pelosok negeri, masih ada tangan-tangan yang bekerja dengan ketulusan, tanpa pamrih, menyembuhkan yang tak kasat mata sekalipun.
Pewarta : Nandang Bramantyo

