RI News. Washington, 20 April 2026 – Penyitaan kapal kargo berbendera Iran oleh pasukan Amerika Serikat di perairan dekat Selat Hormuz pada Minggu (19 April) kembali memperuncing ketegangan antara Washington dan Tehran. Insiden ini terjadi hanya beberapa hari sebelum masa gencatan senjata rapuh yang telah disepakati kedua pihak berakhir pada Rabu mendatang.
Menurut pernyataan Presiden Donald Trump, kapal bernama Touska mencoba menghindari blokade angkatan laut AS yang diberlakukan sejak minggu lalu. Sebuah kapal perusak rudal berpandu Angkatan Laut AS di Teluk Oman mengeluarkan peringatan berulang selama enam jam sebelum menembak lubang pada ruang mesin kapal tersebut. Marinir AS kemudian menguasai kapal yang telah dikenai sanksi itu dan sedang memeriksa muatannya.
Komando militer gabungan Iran mengecam tindakan tersebut sebagai “tindakan pembajakan” dan pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata. Tehran menyatakan akan segera merespons, meskipun belum dijelaskan bentuk balasannya. Sementara itu, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa dalam insiden ini.

Insiden penyitaan kapal ini menjadi intersepsi pertama sejak blokade AS terhadap pelabuhan Iran dimulai. Hal ini semakin meragukan kelanjutan upaya diplomasi yang sempat diumumkan Trump. Presiden AS sebelumnya menyatakan bahwa perunding Amerika akan berangkat ke Pakistan pada Senin (20 April) untuk melanjutkan putaran pembicaraan dengan Iran, dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance bersama utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Namun, respons Iran terlihat skeptis. Melalui media pemerintah, Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahwa tindakan “bullying” AS telah meningkatkan kecurigaan Tehran bahwa Washington akan kembali mengkhianati jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyatakan bahwa retorika dan kontradiksi AS menunjukkan “niat buruk” dalam proses perundingan.
Dua upaya pembicaraan sebelumnya, pada Juni tahun lalu dan awal tahun ini, memang kerap terganggu oleh serangan militer. Kali ini, juru runding utama Iran, Ketua Parlemen Mohammed Bagher Qalibaf, mengakui masih terdapat “kesenjangan lebar” antara kedua pihak, terutama mengenai program pengayaan nuklir Iran, kehadiran kelompok proksi di kawasan, serta status Selat Hormuz.
Baca juga : Truk Muatan Daun Jeruk Tabrak Pohon di Jalan Wonogiri–Ngadirojo, Penumpang Tewas di Tempat
Ketidakpastian ini langsung berdampak pada pasar energi dunia. Harga minyak kembali naik seiring kekhawatiran akan krisis energi global yang semakin dalam. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, serta pasokan pupuk, gas alam, dan bantuan kemanusiaan ke berbagai negara, termasuk Afghanistan dan Sudan.
Iran sempat mengumumkan pembukaan kembali selat tersebut setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan kelompok Hizbullah berlaku. Namun, Trump menegaskan blokade AS akan tetap berlaku hingga Tehran mencapai kesepakatan. Sebaliknya, Iran kembali memberlakukan pembatasan dan bahkan menembak ke arah kapal-kapal yang mencoba melintas.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menyatakan bahwa keamanan Selat Hormuz “bukan gratis”. Ia menawarkan pilihan: pasar minyak bebas untuk semua pihak, atau risiko biaya tinggi yang harus ditanggung bersama jika tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran berlanjut.
Perang yang kini memasuki minggu kedelapan sejak dimulai pada 28 Februari lalu telah menelan korban jiwa yang signifikan: setidaknya 3.000 orang di Iran, lebih dari 2.290 di Lebanon, 23 di Israel, serta belasan di negara-negara Teluk Arab. Belasan tentara AS dan Israel juga dilaporkan tewas.

Dari perspektif akademis, insiden ini mencerminkan pola klasik dalam konflik internasional: penggunaan jalur maritim strategis sebagai alat tekanan politik dan ekonomi. Bagi Iran, kontrol atas Selat Hormuz merupakan senjata paling ampuh untuk memberikan tekanan politik terhadap Trump dan mempengaruhi opini publik global. Sementara bagi AS, blokade tersebut bertujuan menekan ekonomi Iran yang sudah melemah.
Pakistan, sebagai mediator, kini tengah memperketat keamanan di Islamabad. Persiapan mediasi tampak terus berjalan, meski kedua pihak saling tuding melanggar gencatan senjata. Para pengamat menilai bahwa tanpa kompromi nyata pada isu-isu inti, peluang perpanjangan gencatan senjata semakin tipis.
Situasi ini tidak hanya menguji ketahanan diplomasi multilateral, tetapi juga mengingatkan kembali betapa rentannya stabilitas energi global terhadap dinamika politik di Timur Tengah. Dunia kini menanti langkah konkret berikutnya dari kedua belah pihak sebelum Rabu mendatang, di mana gencatan senjata saat ini berpotensi berakhir dan membuka babak baru yang lebih berbahaya.
Pewarta : Setiawan Wibisono

