RI News. Pyongyang – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyatakan dukungan penuh terhadap visi China membangun dunia multipolar yang adil, sekaligus menekankan pentingnya memperkuat hubungan bilateral di tengah situasi geopolitik global yang semakin kompleks. Pernyataan ini disampaikan saat Kim bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Pyongyang, Jumat (10 April 2026).
Menurut laporan media resmi kedua negara, Kim menegaskan bahwa Korea Utara akan mendukung sepenuhnya prinsip “satu China” Beijing, termasuk dalam upaya menjaga integritas wilayah yang mencakup Taiwan. Ia juga menyatakan kesiapan untuk meningkatkan komunikasi tingkat tinggi serta kerja sama strategis guna melindungi kepentingan bersama kedua negara.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam kunjungan dua hari Wang Yi ke Pyongyang, yang merupakan lawatan pertamanya ke Korea Utara dalam tujuh tahun terakhir. Wang menyambut baik pertemuan itu sebagai langkah memasuki “tahap baru” dalam hubungan kedua negara, menyusul pertemuan puncak antara Kim Jong Un dan Presiden China Xi Jinping pada tahun lalu.

Dalam konteks yang lebih luas, kedekatan Pyongyang dan Beijing ini mencerminkan upaya kedua negara untuk memperkuat koordinasi di tengah ketegangan internasional. Kim Jong Un, yang dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak mendekatkan diri dengan Rusia, kini kembali menjadikan China sebagai mitra strategis utama. China tetap menjadi mitra ekonomi terbesar dan penopang vital bagi Korea Utara yang masih menghadapi sanksi internasional.
Beberapa bulan sebelumnya, kedua negara telah memulihkan layanan penerbangan langsung dan kereta api penumpang yang sempat terhenti sejak pandemi COVID-19 pada 2020. Langkah ini menjadi salah satu indikator konkret pemulihan hubungan pasca-isolasi akibat pandemi.
Kunjungan Wang Yi ini juga berlangsung hanya beberapa pekan sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Xi Jinping di Beijing pada Mei mendatang. Beberapa pengamat di Korea Selatan melihat adanya potensi koordinasi antara Pyongyang dan Beijing menjelang pertemuan tersebut, meski belum ada konfirmasi resmi mengenai pembahasan isu semenanjung Korea atau hubungan dengan Washington.
Baca juga : Enam Bulan Gencatan Senjata Gaza: Antara Harapan Pudar dan Bayang-Bayang Perang Regional yang Lebih Besar
Sejak kegagalan diplomasi dengan Trump pada 2019, Kim Jong Un memang menerapkan sikap garis keras. Ia menangguhkan dialog substantif dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan, serta menyebut Seoul sebagai “musuh paling bermusuhan”. Pyongyang juga menolak tawaran pembicaraan baru kecuali Washington menghentikan tuntutan denuklirisasi sebagai prasyarat.
Analis hubungan internasional melihat pertemuan Kim-Wang sebagai bagian dari strategi jangka panjang kedua negara untuk menciptakan keseimbangan kekuatan di Asia Timur. Dengan mendukung konsep dunia multipolar, Kim tampak ingin keluar dari isolasi diplomatik sambil tetap mempertahankan otonomi kebijakan luar negerinya.
Hingga saat ini, belum ada indikasi bahwa pertemuan tersebut membahas secara spesifik isu perang di Timur Tengah atau detail koordinasi langsung terhadap Amerika Serikat. Fokus utama kedua pihak lebih tertuju pada penguatan komunikasi strategis dan kerja sama praktis yang saling menguntungkan.
Hubungan Korea Utara-China yang semakin hangat ini diperkirakan akan terus menjadi faktor penting dalam dinamika keamanan regional, terutama di tengah persaingan besar antara Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik.
Pewarta : Setiawan Wibisono

