RI News. Semarang – Suasana khusyuk dan penuh kehadiran ilahi menyelimuti pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Shirotul Jannah pada Jumat (11/4/2026). Ribuan jamaah tampak tertib dan khidmat mengikuti rangkaian ibadah, terutama saat Aipda Hendra dipercaya menjadi khotib dan menyampaikan khutbah yang sarat makna keagamaan.
Dalam khutbahnya yang disampaikan dengan nada tenang namun tegas, Aipda Hendra mengajak jamaah merenungkan amalan yang pahalanya terus mengalir meski seseorang telah meninggal dunia. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang masyhur:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara…”
Khotib kemudian menjelaskan ketiga amalan tersebut secara rinci kepada para jamaah. Pertama, sedekah jariyah, yaitu sedekah yang manfaatnya terus dirasakan masyarakat luas. Contohnya pembangunan masjid, sumur air bersih, sekolah, atau penyediaan mushaf Al-Qur’an. Selama amalan tersebut masih dimanfaatkan, pahala akan terus mengalir bagi pelakunya.

Kedua, ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang diajarkan dan disebarkan kepada orang lain, baik pengetahuan agama maupun keterampilan kehidupan sehari-hari, akan terus memberikan pahala selama ilmu itu diamalkan oleh penerimanya.
Ketiga, doa anak shalih. Seorang anak yang saleh dan salehah yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya menjadi amalan abadi yang mengalir pahalanya bagi orang tua yang telah wafat.
Aipda Hendra menegaskan bahwa ketiga hal ini dikenal sebagai amal jariyah, amalan yang pahalanya tidak pernah terputus walaupun pelakunya telah tiada.
Lebih lanjut, khotib menyentuh isu aktual yang tengah marak di masyarakat. Ia mengingatkan para suami sebagai pemimpin keluarga untuk menjaga istri dan anak-anaknya dari perilaku membuka aurat atau mengumbar aib keluarga di media sosial.
“Perbuatan tersebut memiliki dosa yang sangat besar. Terlebih jika konten yang diposting terus tersebar dan dilihat oleh banyak orang, maka dosanya bisa terus mengalir selama postingan itu masih ada di dunia maya,” tegas Aipda Hendra di hadapan jamaah.
Pesan ini mendapat respons serius dari para jamaah. Banyak di antara mereka menganggap khutbah tersebut sangat relevan dengan realitas kehidupan di era digital saat ini, di mana batas antara kehidupan pribadi dan publik sering kali kabur.
Dengan penyampaian yang lugas, jelas, dan menyentuh hati, Aipda Hendra berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menjalankan amal saleh serta lebih berhati-hati dalam bermedia sosial, demi kebaikan dunia dan akhirat.
Pewarta: Lisa Susanti

