RI News. Pemalang – Meski puncak arus balik Lebaran 2026 telah berlalu, tarif bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) jurusan Pemalang menuju Jakarta masih bertahan di level tinggi. Fenomena ini kembali memicu keluhan dari warga pengguna jasa angkutan darat, yang merasa harga tidak kunjung normal meski masa libur Idul Fitri sudah memasuki pekan kedua.
Tri Handayani, seorang warga Petarukan, Pemalang, menjadi salah satu penumpang yang menyuarakan kekecewaannya. Pada Minggu (5 April 2026), ia naik bus dari salah satu agen di jalur Pantura Kecamatan Petarukan dengan membayar Rp200.000 untuk tiket ke Jakarta. Padahal, menurut informasi yang beredar, harga seharusnya telah kembali ke level normal sekitar Rp150.000 untuk hari biasa.
“Saya naik bis dari agen di jalur Pantura Petarukan, bayar Rp200 ribu. Padahal sudah bukan Lebaran lagi, harga normal cuma Rp150 ribu,” keluh Tri Handayani saat dikonfirmasi.
Kekecewaan Tri tidak hanya soal harga. Ia menyoroti ketidaksesuaian antara informasi yang diterima dengan kenyataan di lapangan. Menurutnya, petugas agen sempat menyatakan bahwa mulai 5 April tarif sudah normal dan penumpang bebas memilih kursi. Namun, realitasnya jauh berbeda.

“Bener-bener buat kapok. Karcis tidak dikasih nomor bangku, akhirnya rebutan tempat duduk dengan penumpang lain. Bus pun overload, penumpang melebihi kursi yang tersedia. Yang biasanya dapat air mineral botol, kali ini tidak ada. Parahnya lagi, saya dipindah ke bangku dekat toilet,” tambahnya dengan nada kesal.
Tri mengaku sebenarnya tidak terlalu keberatan dengan tarif yang masih tinggi, asalkan kondisi bus dan pelayanan sesuai standar. Bus yang ia tumpangi merupakan kelas dengan konfigurasi kursi 2-2, yang biasanya menawarkan kenyamanan lebih. Namun, janji petugas yang tidak terealisasi membuat pengalamannya menjadi tidak menyenangkan.
“Keberatan banget sih nggak, soalnya saya lihat status yang biasa jaga malam di agen bilang per tanggal 5 April sudah harga normal. Tahu-tahunya pas ke lokasi masih mahal,” ujarnya.
Kekecewaan semakin bertambah ketika Tri yang sudah duduk nyaman harus digeser karena penumpang baru dengan tiket bernomor kursi tiba. “Kita sudah duduk nyaman, terus disuruh geser karena karcis saya tidak ada nomornya. Padahal petugas bilang bebas pilih bangku. Sempat mau cekcok juga dengan penumpang lain,” ceritanya.
Baca juga : Cahaya Perdamaian di Tengah Kegelapan Global: Seruan Kardinal Suharyo Usai Misa Paskah
Keluhan serupa dialami penumpang lain. Seorang ibu yang hendak berangkat ke Tanjung Priok terkejut dengan tarif Rp230.000. Akibatnya, ia membatalkan rencana bepergian bersama suami dan dua anaknya, hanya mengirim suaminya saja karena khawatir tidak kebagian kursi yang layak.
“Sempat pada kaget penumpang lainnya. Ada ibu yang ke Tanjung Priok dihargai Rp230 ribu. Tadinya rencana saya, suami, dan dua anak mau berangkat bareng, tapi karena kaget tarif segitu, jadi suami aja yang berangkat. Kalau ikut semua, kasihan nggak dapat bangku,” tutup Tri.
Fenomena lonjakan tarif bus AKAP pasca-Lebaran bukan hal baru. Banyak perusahaan otobus (PO) masih memberlakukan penyesuaian harga atau tambahan (tuslah) yang mencapai di atas 50 persen dari tarif normal. Harga tiket untuk rute Pemalang-Jakarta dan sekitarnya dilaporkan masih berkisar antara Rp200.000 hingga Rp250.000, bahkan hingga pertengahan April 2026.

Lonjakan ini dipicu oleh tingginya permintaan pada rute favorit dari Jawa Tengah, ditambah faktor operasional seperti antisipasi biaya bahan bakar dan penyesuaian jadwal. Namun, banyak penumpang menilai kenaikan tersebut tidak wajar, terutama karena sudah memasuki periode pasca-arus balik.
Situasi ini menunjukkan perlunya pengawasan lebih ketat dari otoritas terkait agar tarif angkutan umum tidak memberatkan masyarakat dan pelayanan tetap sesuai standar keselamatan serta kenyamanan. Penumpang diimbau untuk selalu meminta bukti tiket lengkap dengan nomor kursi guna menghindari konflik di perjalanan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak perusahaan bus maupun agen terkait keluhan yang beredar di lapangan. Masyarakat berharap tarif segera kembali normal dan pelayanan ditingkatkan agar kepercayaan pengguna jasa angkutan darat tidak terus terkikis.
Pewarta : Ragil Surono

