RI News. Solo – Kasus campak di Jawa Tengah mengalami peningkatan tajam sepanjang awal 2026, dengan total mencapai 1.720 kasus suspek yang tersebar di berbagai wilayah. Tiga kabupaten, yaitu Cilacap, Klaten, dan Pati, telah memenuhi kriteria kejadian luar biasa (KLB) secara epidemiologis, meskipun penetapan status resmi masih menunggu keputusan bupati masing-masing.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Heri Purnomo, menegaskan bahwa peningkatan tersebut memenuhi ambang batas KLB berdasarkan parameter epidemiologi. “Secara epidemiologi memang terjadi lonjakan kasus dan memenuhi kriteria, meski belum ditetapkan secara administratif,” ujar Heri pada akhir Maret lalu.
Peningkatan kasus ini menjadi perhatian serius karena campak merupakan penyakit menular yang sangat cepat menyebar, terutama di kalangan anak-anak dengan cakupan imunisasi yang belum optimal. Faktor pasca-pandemi, seperti terganggunya program posyandu dan imunisasi rutin, diduga turut berkontribusi terhadap munculnya kantong-kantong kerentanan di masyarakat.

Di tengah situasi provinsi yang memprihatinkan, Kota Solo berhasil menjaga kondisi tetap terkendali. Wali Kota Surakarta Respati Ardi memastikan hingga kini belum ditemukan kasus campak positif di wilayahnya. “Alhamdulillah Surakarta masih terkontrol. Saya imbau seluruh masyarakat jangan takut vaksin, ini aman dan untuk kepentingan mencegah campak,” kata Respati saat ditemui di Loji Gandrung, Solo, Kamis (2/4/2026).
Respati menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam program imunisasi. Vaksin campak, menurutnya, dapat diakses dengan mudah melalui 17 puskesmas yang tersebar di Kota Solo serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Ia mempersilakan warga memanfaatkan layanan tersebut sebagai bentuk pencegahan dini.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo Retno Erawati Wulandari menambahkan, meskipun belum ada konfirmasi positif, pihaknya mendeteksi sekitar 50 kasus suspek campak yang saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. “Kalau suspek itu belum tentu positif. Harus dipastikan dulu dengan pemeriksaan laboratorium,” jelas Retno.
Mayoritas suspek berasal dari anak-anak yang datang ke fasilitas kesehatan maupun praktik dokter swasta. Gejala yang umum muncul meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta ruam merah pada kulit yang biasanya dimulai dari belakang telinga dan menyebar ke seluruh tubuh.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Solo Anom Yuliansyah menyatakan bahwa pihaknya terus memperketat langkah pencegahan melalui beberapa strategi simultan. Di antaranya adalah penguatan surveilans berbasis individu, di mana setiap kasus suspek akan menjalani penyelidikan epidemiologi, penanganan kasus, serta pengambilan spesimen untuk diagnosis pasti.
“Selain itu, kami gencarkan program imunisasi kejar atau catch-up campaign bagi balita dan anak yang dosisnya belum lengkap,” tambah Anom. Upaya komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) juga ditingkatkan, tidak hanya kepada masyarakat luas tetapi juga kepada tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh kota.

Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa campak dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga ensefalitis jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, vaksinasi menjadi benteng utama pencegahan yang paling efektif dan aman.
Dengan situasi yang masih dinamis di tingkat provinsi, Dinas Kesehatan Kota Solo terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi untuk memantau perkembangan. Masyarakat diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika menemukan gejala mencurigakan, serta memastikan jadwal imunisasi lengkap sesuai rekomendasi.
Pemerintah kota berharap kesadaran kolektif ini dapat mencegah penyebaran lebih luas, sehingga Solo tetap menjadi wilayah yang aman dari ancaman campak di tengah lonjakan kasus di Jawa Tengah.
Pewarta : Rendro P

