RI News. Havana – Di tengah hubungan bilateral yang semakin tegang, sebuah tim teknis dari Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat telah tiba di Kuba untuk melakukan penyelidikan independen terhadap insiden penembakan fatal di perairan utara pulau tersebut pada akhir Februari lalu.
Insiden tersebut terjadi pada 25 Februari ketika patroli perbatasan Kuba terlibat baku tembak dengan sebuah kapal cepat berbendera Amerika Serikat yang membawa sepuluh pria bersenjata. Menurut versi pemerintah Kuba, kapal itu membawa kelompok eksil Kuba yang berusaha menyusup ke wilayahnya untuk melakukan aksi terorisme. Baku tembak itu menewaskan lima orang dan melukai enam lainnya, termasuk seorang awak kapal militer Kuba.
Pemerintah Kuba menyebut peristiwa itu sebagai “serangan teroris” yang direncanakan oleh warga negara Kuba yang tinggal di Amerika Serikat. Mereka menegaskan bahwa kelompok tersebut lebih dulu melepaskan tembakan, sehingga pasukan Kuba terpaksa membalas untuk mempertahankan kedaulatan wilayah.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat dengan tegas membantah adanya keterlibatan resmi dalam insiden tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa kelompok itu bukan operasi pemerintah Amerika dan menekankan pentingnya verifikasi fakta secara independen.
Kedatangan tim FBI pada hari Selasa menjadi langkah konkret kerjasama kedua negara di tengah situasi yang sensitif. Seorang pejabat diplomatik AS yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa tim tersebut bertugas melakukan investigasi menyeluruh dan netral. Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel sebelumnya telah menyatakan harapannya agar agen FBI hadir untuk membantu mengungkap kebenaran.
Peralatan militer yang disita dari kapal cepat tersebut cukup mencolok: senapan kaliber besar, pistol, seragam militer, helm, generator listrik, perangkat komunikasi satelit, serta ribuan butir amunisi. Barang-barang ini dipamerkan oleh pejabat tinggi Kementerian Dalam Negeri dan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba beberapa hari setelah insiden.
Baca juga : Semarang Jadi Magnet Olahraga Nasional: April 2026 Dipenuhi Event Beragam dari Balap Motor hingga Padel
Enam penyintas kini menghadapi dakwaan pidana berat atas tuduhan terorisme, dengan ancaman hukuman seumur hidup. Kasus ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah hubungan AS-Kuba yang sudah lama penuh gejolak, terutama sejak era embargo ekonomi dan isu-isu politik terkait pengungsi serta keamanan regional.
Insiden ini juga menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang aktivitas eksil Kuba di Florida serta potensi risiko keamanan di Selat Florida yang kerap menjadi jalur lintas ilegal. Meski demikian, baik Washington maupun Havana sepakat untuk menjalankan proses investigasi secara hati-hati agar tidak memperburuk ketegangan yang ada.
Penyelidikan bersama ini diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai kronologi peristiwa, motif pelaku, serta implikasinya terhadap stabilitas kawasan Karibia. Sampai saat ini, belum ada informasi resmi mengenai durasi keberadaan tim FBI di Kuba maupun temuan awal mereka.
Pewarta : Setiawan Wibisono S.Th

