RI News. Tokyo – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyepakati langkah konkret untuk mempererat koordinasi dalam merespons krisis di Timur Tengah yang kini mengancam stabilitas pasokan energi global. Kesepakatan ini tercapai dalam pertemuan bilateral pertama mereka sejak Takaichi menjabat sebagai perdana menteri pada Oktober 2025, yang berlangsung di Tokyo pada Selasa (31/3/2026).
Konflik yang berawal dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu telah memicu penutupan efektif Selat Hormuz, jalur vital bagi sebagian besar pasokan minyak dunia. Hal ini langsung mendorong lonjakan harga minyak mentah dan menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi negara-negara importir besar seperti Jepang dan Indonesia. Dalam konferensi pers bersama, Takaichi menekankan pentingnya sinergi kedua negara untuk menjaga ketahanan energi di tengah ketidakpastian tersebut.
“Jepang dan Indonesia adalah mitra komprehensif dan strategis yang telah membangun hubungan persahabatan selama puluhan tahun,” ujar Takaichi. Ia menambahkan bahwa Tokyo siap mendukung Jakarta dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang kecerdasan buatan (AI) serta peningkatan kemampuan keamanan maritim.

Prabowo, yang tiba di Tokyo pada Minggu (29/3) untuk kunjungan tiga hari, menyambut baik komitmen tersebut. Ia menyebut hubungan bilateral Indonesia-Jepang sebagai “model teladan” yang bisa diikuti negara lain di kawasan. “Di tengah situasi internasional yang penuh bahaya saat ini, Indonesia dan Jepang harus berjalan bersama. Kami siap berkontribusi pada upaya deeskalasi konflik untuk mengembalikan stabilitas,” kata Prabowo.
Pertemuan ini juga membahas penguatan kerja sama ekonomi dan keamanan yang lebih mendalam. Jepang, yang hampir seluruh kebutuhan minyak mentahnya bergantung pada impor dan lebih dari 90 persen berasal dari Timur Tengah, melihat Indonesia sebagai mitra kunci di Asia Tenggara. Sementara Indonesia, yang mengandalkan kawasan tersebut untuk sekitar 20-25 persen kebutuhan minyaknya, turut merasakan tekanan dari gejolak harga energi.
Di balik isu Timur Tengah, kedua pemimpin sepakat memajukan visi Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Visi ini semakin relevan mengingat upaya Tokyo untuk menyeimbangkan dinamika kekuatan di kawasan, termasuk pengaruh ekonomi dan militer yang terus berkembang dari China. Kerja sama pertahanan kedua negara telah mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir melalui program Bantuan Keamanan Resmi (OSA) Jepang, yang mencakup penyediaan peralatan serta latihan bersama pasukan.
Selain pertemuan dengan Takaichi, Prabowo juga telah bertemu dengan Kaisar Naruhito dan Putra Mahkota Fumihito pada Senin (30/3). Kunjungan ini mencerminkan komitmen bersama untuk tidak hanya menangani isu keamanan tradisional, tetapi juga membangun ketahanan jangka panjang melalui transfer teknologi, pengembangan SDM, dan kolaborasi di sektor maritim.
Para analis menilai pertemuan ini sebagai momentum strategis bagi kedua negara. Bagi Jepang, memperkuat ikatan dengan Indonesia membantu memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara di tengah lanskap geopolitik yang kompleks. Bagi Indonesia, dukungan Jepang dalam AI, keamanan maritim, dan diversifikasi energi menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan global tanpa mengorbankan kedaulatan dan kepentingan nasional.
Dengan semangat kemitraan yang saling menguntungkan, Jakarta dan Tokyo tampaknya siap menjadikan hubungan bilateral mereka sebagai pilar stabilitas di kawasan Indo-Pasifik yang semakin dinamis. Langkah konkret yang dihasilkan dari pertemuan ini diharapkan tidak hanya meredam dampak krisis energi saat ini, tetapi juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas di masa depan.
Pewarta : Albertus Parikesit

