RI News. Subulussalam – Memasuki awal Maret 2026, suasana menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H seharusnya dipenuhi kegembiraan dan persiapan. Namun, bagi ratusan perangkat desa di Kota Subulussalam, kenyataan justru menyisakan keprihatinan mendalam. Sampai saat ini, honorarium mereka untuk tiga bulan pertama Tahun Anggaran 2026 belum juga cair dari Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam.
Para perangkat desa, yang sehari-hari menjalankan tugas pelayanan masyarakat di tingkat kampung, mengaku telah menanti kepastian pembayaran sejak Januari lalu. “Kami punya anak dan keluarga yang juga menunggu kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Apalagi sekarang mendekati Lebaran, harga kebutuhan pokok melonjak, sementara honor belum ada satupun yang masuk,” ujar salah seorang perangkat desa yang enggan disebut namanya kepada awak media.
Keterlambatan ini membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk persiapan menyambut hari besar umat Islam tersebut. Banyak di antara mereka yang mengandalkan honor bulanan sebagai sumber pendapatan utama untuk biaya sekolah anak, belanja harian, hingga kebutuhan mudik jika memungkinkan.

“Kami sangat berharap Walikota segera memberikan perhatian dan solusi. Ini bukan hanya soal uang, tapi juga penghargaan atas pengabdian kami di desa,” tambahnya dengan nada haru. Harapan serupa disampaikan sejumlah perangkat lain, yang menekankan bahwa pencairan tepat waktu akan sangat membantu meringankan beban mereka menjelang Idul Fitri.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemko Subulussalam belum memberikan keterangan resmi terkait jadwal atau alasan pasti tertundanya pembayaran honor tersebut. Beberapa sumber di lingkungan pemerintahan desa menyebut kemungkinan terkait proses pengesahan anggaran daerah yang masih berlangsung, meski hal ini belum mendapat konfirmasi langsung dari otoritas terkait.
Baca juga : Sinergi Aparat dan Warga Pacarejo Pulihkan Rumah Pasca-Angin Kencang
Para perangkat desa kini hanya bisa berharap agar pengambil kebijakan di tingkat kota segera merespons keluhan mereka. “Kami mohon Walikota turun tangan langsung. Ini soal nasib keluarga kami di saat yang paling dibutuhkan,” pungkas salah seorang di antaranya.
Kondisi ini mencerminkan tantangan yang kerap dihadapi aparatur desa di berbagai daerah, di mana keterlambatan honor sering kali berimbas pada kinerja pelayanan publik di tingkat paling bawah. Di tengah semarak persiapan Lebaran, kisah para perangkat desa Subulussalam menjadi pengingat bahwa kesejahteraan pelayan masyarakat pun perlu menjadi prioritas.
Pewarta: Jaulim Saran

