RI News. Semarang – Jawa Tengah berubah menjadi panggung aksi kolektif yang tak biasa. Saat matahari baru muncul, ratusan personel Satuan Brimob Polda Jawa Tengah tak lagi mengenakan perlengkapan taktis penuh, melainkan memegang sapu, cangkul, sekop, dan sabit. Mereka bergerak serentak sejak pukul 07.00 WIB, menyasar empat titik strategis yang selama ini menjadi denyut nadi kehidupan warga: waduk, pasar tradisional, dan ruang publik yang kerap terabaikan.
Di tepi Waduk Cengklik, Boyolali, Kompi setempat yang dipimpin Iptu Ilham Dewangga Saputra, S.Tr.K., S.I.K., M.Si., turun langsung bersama warga serta perwakilan instansi terkait. Saluran air yang semula tersumbat sampah plastik dan ditumbuhi rumput liar perlahan dibersihkan. Area sekitar waduk yang biasanya kumuh kini mulai menunjukkan wajah lebih rapi, mengurangi risiko banjir kecil dan sarang nyamuk.
Tak jauh berbeda di Semarang, Kompi Pasadena di bawah komando AKP Agus Suyono bergotong royong dengan Polsek Ngaliyan, lurah setempat, Satpol PP, serta petugas pasar di Pasar Purwoyoso. Meski aktivitas jual beli tetap berlangsung ramai, suasana pasar berubah lebih segar. Sampah yang menumpuk di sudut-sudut dikumpulkan, saluran drainase dibersihkan hingga air kembali mengalir lancar. Pedagang dan pembeli sama-sama merasakan kenyamanan tambahan dari lingkungan yang lebih higienis.

Di Kroya, Cilacap, AKP Suprapto, S.H., memimpin anggota Kompi setempat membersihkan Pasar Karangmangu. Setelah apel singkat, warga bergabung membersihkan los-los dagang, membersihkan rumput liar, dan mengangkut tumpukan sampah yang selama ini mengganggu akses masuk. Pasar yang menjadi pusat ekonomi lokal itu kini tampak lebih teratur dan ramah bagi pengunjung.
Sementara di Pekalongan, Pasar Grosir Batik Setono yang ikonik mendapat sentuhan serupa. Dipimpin Aipda Cahyo H, S.H., personel Kompi Pekalongan fokus menata area perdagangan batik agar lebih bersih dan nyaman. Para pedagang batik yang biasa beraktivitas di tengah hiruk-pikuk kini bisa bernapas lebih lega dengan lingkungan yang bebas dari sampah menumpuk.
Meski hanya mengandalkan alat-alat sederhana, dampak dari aksi ini terasa signifikan. Lingkungan publik menjadi lebih sehat, saluran air tak lagi tersumbat, dan potensi penyakit akibat sampah menurun. Lebih dari itu, kegiatan korvey massal ini mempererat ikatan antara anggota Brimob dan masyarakat. Gotong royong lintas pihak menciptakan rasa kebersamaan yang jarang terlihat di ruang publik urban.
Kombes Pol Noor Hudaya, Dansat Brimob Polda Jawa Tengah, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar rutinitas pembersihan. “Ini wujud komitmen kami untuk hadir memberikan manfaat langsung. Korvey bukan hanya membersihkan fisik lingkungan, tapi juga membangun tradisi kepedulian sosial di internal anggota. Semangat ‘Brimob Untuk Nusa dan Bangsa’ kami wujudkan lewat aksi nyata seperti ini,” ujarnya.
Kegiatan serupa, lanjutnya, akan terus digelar secara berkala sebagai kontribusi Brimob dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat dari aspek sosial-lingkungan.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, menyambut positif aksi tersebut sebagai bentuk Polri yang lebih humanis. “Kehadiran Brimob tak hanya saat ada ancaman kamtibmas, tapi juga menjadi bagian solusi kehidupan sehari-hari masyarakat. Gotong royong semacam ini yang memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian,” tandasnya.
Aksi serentak ini menjadi pengingat bahwa penjagaan keamanan tak selalu identik dengan senjata dan patroli, melainkan juga bisa dimulai dari membersihkan lingkungan bersama demi kualitas hidup yang lebih baik bagi semua.
Pewarta: Nandang Bramantyo

