RI News. Manila – Amerika Serikat dan Filipina sepakat memperkuat postur pertahanan bersama di kawasan Indo-Pasifik melalui peningkatan penempatan sistem rudal canggih dan platform tanpa awak milik AS di wilayah Filipina. Keputusan ini diumumkan dalam pernyataan bersama usai Bilateral Strategic Dialogue ke-12 yang digelar di Manila pada pertengahan Februari 2026.
Kedua negara, yang terikat Perjanjian Pertahanan Bersama sejak 1951, menegaskan komitmen untuk menjaga kebebasan navigasi, penerbangan, serta perdagangan yang sah di laut. Mereka secara tegas mengkritik aktivitas yang dianggap ilegal, memaksa, agresif, dan menipu di Laut China Selatan, yang dinilai mengganggu stabilitas kawasan serta perekonomian Indo-Pasifik secara luas.
Rencana tersebut mencakup perluasan latihan militer gabungan, dukungan Washington dalam modernisasi angkatan bersenjata Filipina, serta peningkatan kehadiran sistem rudal mutakhir AS. Penempatan ini diharapkan memperkuat kemampuan pencegahan (deterrence) terhadap potensi ancaman di perairan yang dipersengketakan.

Sistem rudal Typhon milik Angkatan Darat AS, yang telah ditempatkan di Luzon sejak April 2024, serta Navy Marine Expeditionary Ship Interdiction System (NMESIS) yang tiba tahun sebelumnya, masih dipertahankan di Filipina. Kedua sistem tersebut telah diperkenalkan kepada prajurit Filipina selama latihan bersama guna membangun pemahaman tentang kemampuan operasionalnya.
Duta Besar Filipina untuk Washington, Jose Manuel Romualdez, yang turut serta dalam perundingan, menyatakan bahwa pejabat pertahanan kedua negara sedang membahas kemungkinan penempatan varian rudal yang telah ditingkatkan sepanjang 2026. Manila berharap pengalaman tersebut dapat menjadi langkah awal menuju akuisisi sistem serupa untuk kebutuhan pertahanan nasional sendiri.
“Penempatan ini bersifat defensif dan bertujuan murni untuk pencegahan,” ujar Romualdez. Ia menambahkan bahwa setiap tindakan agresif di kawasan justru memperkuat tekad Filipina untuk memiliki kapabilitas yang lebih tangguh.
Secara teknis, peluncur Typhon berbasis darat mampu meluncurkan rudal Standard Missile-6 dan Tomahawk Land Attack Missile. Rudal Tomahawk sendiri memiliki jangkauan lebih dari 1.600 kilometer, sehingga mencakup wilayah strategis dari posisi di Luzon utara. Sementara itu, NMESIS yang ditempatkan di Pulau Batan, Provinsi Batanes—tepat menghadap Selat Bashi di selatan Taiwan—memperkuat pengendalian jalur maritim krusial yang menjadi perebutan pengaruh antara kekuatan besar.
Meski Beijing berulang kali menyatakan keprihatinan dan meminta penarikan sistem tersebut—dengan alasan mengganggu stabilitas kawasan—pemerintah Filipina di bawah Presiden Ferdinand Marcos Jr. menolak tuntutan itu. Manila menegaskan bahwa langkah-langkah ini merupakan bagian sah dari hak bela diri dan kerja sama dengan sekutu.
Konfrontasi antara kapal penjaga pantai China dan Filipina di perairan sengketa terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sementara Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan juga memiliki klaim tumpang tindih di kawasan yang sama.
Para analis menilai peningkatan kehadiran rudal AS di Filipina sebagai sinyal kuat bahwa aliansi Manila-Washington semakin berorientasi pada penguatan postur pencegahan di “rantai pulau pertama” Pasifik Barat. Langkah ini diyakini akan memengaruhi dinamika keseimbangan kekuatan di kawasan, khususnya terkait keamanan jalur perdagangan global dan stabilitas di sekitar Taiwan.
Dengan lebih dari 500 aktivitas militer gabungan yang direncanakan sepanjang 2026, termasuk latihan skala besar dan pertukaran keahlian, kedua negara tampak berupaya membangun ketahanan bersama menghadapi tantangan keamanan maritim yang semakin kompleks.
Pewarta : Setiawan Wibisono

