RI News. Geneva, 18 Februari 2026 — Dalam suasana tegang yang memadukan demonstrasi kekuatan militer dan upaya diplomatik, Iran melakukan penutupan sementara sebagian Selat Hormuz pada Selasa (17/2) waktu setempat untuk melaksanakan latihan tembak langsung oleh Pasukan Garda Revolusi (IRGC). Langkah ini bertepatan dengan putaran kedua perundingan tidak langsung mengenai program nuklir Teheran yang digelar di Jenewa, Swiss, dengan mediasi Oman.
Penutupan jalur maritim strategis tersebut—yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia—dilaporkan berlangsung beberapa jam dengan alasan “keamanan pelayaran dan kepentingan maritim”. Media negara Iran melaporkan bahwa rudal tembak langsung ditembakkan dari daratan dan pesisir menuju target di selat tersebut sebagai bagian dari latihan “Smart Control of the Strait of Hormuz”. Ini merupakan kali pertama sejak ancaman militer AS meningkat akhir-akhir ini Iran secara terbuka mengumumkan penutupan semacam itu, meskipun latihan serupa pernah digelar beberapa minggu sebelumnya tanpa penutupan resmi.
Langkah Tehran ini dipandang sebagai sinyal kuat kepada komunitas internasional, khususnya Washington, bahwa setiap tindakan agresif terhadap Iran berpotensi mengganggu stabilitas energi global. Pakar keamanan regional menilai pengumuman penutupan ini sebagai pesan bahwa dampak serangan terhadap Iran tidak akan terbatas pada wilayahnya saja, melainkan bisa menciptakan efek riak ekonomi dunia.

Sementara itu, perundingan di kediaman utusan Oman di Jenewa berlangsung selama sekitar tiga setengah jam. Delegasi AS dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner. Pihak Iran dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang kemudian menyatakan bahwa kedua belah pihak telah mencapai pemahaman atas “prinsip-prinsip panduan utama” untuk kesepakatan potensial.
“Diskusi berlangsung serius, konstruktif, dan positif. Kami berhasil mencapai kesepakatan umum atas sejumlah prinsip panduan, yang menjadi dasar untuk melangkah ke penyusunan kesepakatan lebih lanjut,” ujar Araghchi kepada media negara setelah pertemuan. Ia menekankan bahwa jalur menuju kesepakatan telah dimulai, meskipun masih banyak detail teknis yang perlu diselesaikan. Delegasi Iran berencana menyampaikan proposal lebih rinci dalam dua minggu ke depan guna mempersempit perbedaan posisi.
Di sisi lain, pejabat AS yang berbicara tanpa menyebut nama menyatakan bahwa kemajuan memang tercapai, tetapi “masih banyak detail yang harus dibahas”. Oman, sebagai mediator, menyebut pertemuan berakhir dengan “kemajuan baik dalam mengidentifikasi tujuan bersama dan isu teknis terkait”, serta langkah-langkah jelas ke depan.
Baca juga : Pangkogabwilhan I Tekankan Mitigasi Megathrust di Wilayah Rawan Gempa Bengkulu
Pernyataan optimis dari Araghchi kontras dengan nada keras dari Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Ia memperingatkan bahwa “tentara terkuat di dunia bisa mendapat tamparan yang membuatnya tak bisa bangkit lagi”, merujuk pada kehadiran militer AS yang diperkuat di kawasan, termasuk pengiriman kapal induk USS Gerald R. Ford untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln beserta armada pendukungnya.
Presiden Trump, yang secara tidak langsung terlibat dalam perundingan, menyatakan keyakinannya bahwa Teheran “ingin mencapai kesepakatan” demi menghindari konsekuensi lebih lanjut. Ia telah berulang kali mengancam penggunaan kekuatan jika program nuklir Iran tidak dibatasi, terutama setelah pemboman situs nuklir Iran oleh AS pada Juni tahun lalu yang menghancurkan banyak sentrifugal pengaya uranium.

Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan tidak mengejar senjata nuklir, serta bersedia membuka verifikasi lebih lanjut. Namun, Teheran menolak tuntutan untuk menghentikan pengayaan uranium di wilayahnya atau menyerahkan stok uranium tingkat tinggi. Sebelum insiden Juni lalu, Iran telah mengaya uranium hingga kemurnian 60 persen—hanya selangkah teknis dari tingkat senjata.
Meskipun perundingan menunjukkan tanda kemajuan, ketegangan tetap tinggi di tengah pembangunan militer AS dan kekhawatiran negara-negara Teluk akan eskalasi menjadi konflik regional baru. Harga minyak dunia sempat berfluktuasi, dengan penurunan setelah perundingan usai, mencerminkan harapan pasar terhadap kemungkinan kesepakatan yang dapat menstabilkan pasokan energi global.
Perkembangan ini menandai fase kritis dalam diplomasi AS-Iran pasca-kegagalan kesepakatan 2015 dan serangkaian konfrontasi militer baru-baru ini. Hasil akhir dari proses ini tidak hanya akan menentukan masa depan program nuklir Iran, tetapi juga stabilitas Timur Tengah dan keseimbangan kekuatan global.
Pewarta : Setiawan Wibisono

